Just Sharing Berbagi itu indah, berbagi tidak akan mengurangi tapi dengan berbagi akan menambah


Menjalani Hidup dengan Mentalitas Mujahid

Salah satu adab seorang muslim terhadap Al-Quran adalah memuliakannya. Memuliakan dengan membaca, menadaburi dan melaksanakan sepenuh hati. Bukan menggugat apa yang telah ada didalamnya ,atau  dengan sombong mengubah apa yang telah di firmankan oleh-Nya.


Terkadang ketika membaca ayat-ayat tentang jihad, kita membayangkan untuk diri sendiri. Sungguh cita-cita yang besar karena jihad adalah amalan tertinggi di dalam Islam.


… رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْـجِهَادُ فِـي سَبِيْلِ اللهِ.


“… Pokoknya perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fii sabiilillaah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya)


Anugerah yang besar jika  Allah memberikan kesempatan itu. Seluruh umat Islam berharap agar dimasukkan ke dalam golongan yang beruntung ini. Tetapi, terkadang apa yang diharapkan tak selalunya terjadi. Maka, hal itu janganlah membuat  patah semangat, lemah dan putus asa. Hiduplah dengan mentalitas tempur seorang mujahid di kehidupan sehari-hari yang dilalui.


Hidup dengan Mentalitas  Mujahid


Hal pertama yang perlu dilakukan adalah thalabul ilmi baik ilmu duniawi maupun ukhrawi. Dengan kehadiran kedua ilmu ini, berguna untuk kesiapan sebagai mujahid fi sabilillah. Juga terhindar dari berbagai macam syubhat yang ada di sekitar manusia pada umumnya. Allah pun telah memberikan kabar gembira bagi para pengemban ilmu bahwa mereka akan ditingggikan derajatnya oleh-Nya.


Allah Swt telah menjanjikan derajat itu di dalam Surat Mujadilah ayat 11,


يَرفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُم وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلعِلمَ دَرَجَـٰتٍ‌ۚ


“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Surat Mujadilah : 11 )


Ilmu adalah sesuatu yang penting bagi setiap muslim. Bagaimana mungkin seseorang beramal tanpa berilmu? Apalagi cita-citanya tertinggi adalah berjihad di jalan Allah. Mungkinkah seorang hamba Allah berjihad tanpa ilmu?


Modal utama seorang muslim adalah ilmu. Karena semua yang akan ia lakukan membutuhkan ilmu untuk menerapkannya. Maka, ketika Allah belum memberikan seseorang kesempatan untuk berjihad, hiasilah diri dengan ilmu. Sehingga ketika anugerah itu datang, seseorang yang telah lama mendambakan terjun di medan jihad telah siap untuk berkiprah dengan ilmu yang dimiliki.


Kedua, adalah dengan menjalankan peran di setiap lingkungan yang berbeda-beda dengan baik. Adakalanya seseorang berperan sebagai ayah, sebagai anak, sebagai suami, sebagai kakak, sebagai guru, sebagai tetangga, sebagai pekerja, sebagai pebisnis dan masih banyak lagi. Dengan jiwa mujahid yang telah tertanam di hati, ia menjalani semua peran itu dengan sebaik-baiknya. Karena sebagai seorang mujahid harus siap dengan kondisi apapun dan dalam posisi sebagai apapun. Dengan penempatan diri sesuai perannya membuat seseorang fokus dengan apa yang ia kerjakan, serta tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat.


Jangan sampai hanya karena hidup enak dan nyaman lantas meninggalkan jihad. Juga tidak perlu sampai menghilangkan  jati diri yang sebenarnya ketika hidup dengan mentalitas seorang mujahid. Yang paling tepat adalah mengkombinasikan keduanya. Kemenangan yang besar akan dibukakan Allah padanya ketika ia menjalani semua itu dengan kejujuran hati dan keikhlasan.


Begitu pula, janganlah mempersulit diri sendiri ketika belum diberi kesempatan Allah berjihad. Hidup secara ekslusif hingga sampai berdampak pada orang tuanya, istrinya, anak-anaknya dan menjauh dari mereka dan masyarakat. Kehadirannya justru menjadi bumerang bagi umat dan stimulan untuk musuh Allah sedang dia tidak merasa.


Hiduplah dengan mentalitas mujahid yang dicintai Allah, yaitu mujahid yang bersikap lembut terhadap kaum muslimin


أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ


“….yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela….” (QS.Al-Maidah : 54)


Berbagai macam rintangan, hambatan, rasa sakit yang akan menimpa di sepanjang perjalanan hidup akan membuatmu tabah dan sabar. Karena ia adalah seseorang yang hidup dengan mental mujahid.


Disebutkan ada seorang lelaki lewat di depan Rasulullah  dan para shahabat radhiyallahu `anhu melihat kondisi lelaki tersebut dari kulit tubuhnya dan semangatnya, maka Rasulullah  bersabda


إن كان خرج يسعى على ولده صغارًا فهو في سبيل الله، و إن خرج يسعى على آبوين شيخين كبيرين فهو في سبيل الله، وإن كان يسعى على نفسه يعفّها فهو في سبيل الله، و إن كان خرج رياءً وتفاخرًا فهو في سبيل الشيطان


“Jika dia keluar bekerja untuk anaknya yang masih kecil, maka dia terhitung di jalan Allah, dan jika dia keluar bekerja untuk kedua orang tuanya, maka dia terhitung di jalan Allah, dan jika dia keluar bekerja untuk dirinya sendiri dalam rangka `iffah (menjaga kehormatan diri- pen) maka dia terhitung di jalan Allah  ,dan jika keluar dalam rangka riya` dan berbangga diri maka dia terhitung di jalan setan.”  (Ath-Thabraniy, Shahih At-Targhib (1692))


Ya, hiduplah dengan mentalitas seorang mujahid. Berdoa pada Allah agar apa yang diusahakan ini menjadi sebab sampainya di jalan jihad serta mendapat syahadah di dalamnya. Wallahu a’lam bi shawab.


Disarikan dari tulisan Syaikh Iyad Al-Qunaibi yang berjudul “Isy Binafsiyatil Mujahid”


 https://berkahmediaweb.my.id/hosting/

Share:

JALAN BAHAGIA MENDIDIK ANANDA

Paranting Nabawi
Abul Abbas Thobroni
(Mudir ma'had Nida'us Salam dan pengasuh pendidikan berbasis fitroh SABA 'Sekolah Aqil Baligh' pekalongan)
Anak adalah penyejuk mata, pelipur hati, dan penentram jiwa.
Anak adalah karunia dan kenikmatan Allah yang sangat mahal.
Oleh sebab itu mendidik anak merupakan aktifitas yang sangat menyenangkan. Dengan kedekatan kita kepada anak, kita akan merasakan kelezatan dalam hati kita.
Hal ini disebabkan karena Allah Ta'ala sudah menginstall dalam diri kita kecintaan kepada anak, sebagaimana Allah berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)". (Ali Imron: 14)
Oleh sebab itu pasti setiap kita Cinta kepada buah hati kita, dan orang tua yang tidak cinta kepada buah hatinya, menunjukan ketidak normalan, rusaknya fitroh dan bobroknya akal mereka.
Disini akan kita sebutkan beberapa metode supaya mendidik anak menjadi sebuah kebahagiaan, kepuasan, dan sangat mengasyikan.
1. *Berhusnudzon kepada Allah*
Allah adalah Tuhan yang sempurna dalam dzat, nama, sifat, dan perbuatan Nya. Setiap apa yang Allah tetapkan pasti ada hikmah mulia dibaliknya, tidak ada penciptaan Allah yang sia-sia. Allah Ta'ala berfirman :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imran: 191)
Keberadaan langit, bumi, dan makhkuq yang di dalamnya bukan lah sia-sia belaka, akan tetapi semuanya memiliki hikmah dan tujuan.
Ketika menciptakan anak pun pasti Allah sudah menyiapkan peran mulia yang akan mereka jalankan. Dan pasti Allah sudah menginstal dalam diri anak sarana untuk menyempurnakan diri mereka. Allah yang telah menciptakan manusia dengan tujuan mulia, Dia juga yang menyiapkan sarana untuk sampai kepada tujuanya.
Maka terus pupuklah Husnudzon (berbaik sangka) kepada Allah. Dan jangan sekali-kali Su'udzon (berburuk sangka) kepada Allah tentang masa depan anak kita.
Rosulullah bersabda dalam hadits shohih
( إن الله تعالى يقول أنا عند ظن عبدي بي إن خيرا فخير وإن شرا فشر )
"Allah berfirman : Aku sesuai dengan prasangka hambaku kepada Ku, jika ia berprasangka baik maka Aku pun baik jika ia berprasangka buruk maka Aku seperti prasangkaan tersebut"
Kenapa masa anak kok sukanya bermain..? berhusnudhonlah kepada Allah pasti ada hikmah dibalik ini dan jangan merampas masa bermainya anak.
2. *Yakinkan bahwa anda adalah guru terbaik bagi buah hati anda*.
Anda adalah orang yang dipilih oleh Allah untuk amanah buah hati anda. Dan semua pilihan Allah adalah yang terbaik karena Allah Ta'ala telah berfirman:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)". (Al Qoshos:68)
Allah lah yang mentaqdirkan pasangan hidup bagi kalian,  Allah juga yang memilihkan keturunan, ada orang yang dipilih oleh Allah memiliki buah hati laki-laki, ada yang perempuan, bahkan ada yang Allah tidak diberikan amanah ini.
Allah Ta'ala berfirman:
للهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ
أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki,
atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (As Syuro' : 49-50)
Dan rupanya pilihan Allah untuk merawat makhluq yang spesial (anak) ini adalah anda, maka anda lah pendidik terbaik untuk anak anda.
Dan perlu kita ingat bahwa wujudnya anda sebagai orang tua bagi anak anda bukan sebuah kebetulan, akan tetapi karena andalah orang yang paling tepat untuk menjaga amanah besar ini.
Maka kita harus PD untuk mendidik anak kita sendiri, jadikan anda wahai ayah bunda sebagai guru pertama bagi anak dan jadikan rumah anda sebagai sekolah perdana bagi mereka.
Jangan sampai kita campakan pilihan Allah ini dengan kita bergantung dalam pendidikan anak kita kepada orang lain. Karena anda adalah pilihan Allah yang tidak mungkin meleset, sedangkan orang lain adalah pilihan anda yang bisa tepat dan bisa meleset.
Ingat jika anak anda rusak, maka orang pertama yang bertanggung jawab adalah anda, dan pertama yang akan ditanya oleh Allah adalah anda wahai orang tua bukan sekolah, bukan lingkungan, bukan media, dan bukan HP.
Ketika kita hidup pada sebuah zaman dimana tanggung jawab pendidikan diserahkan penuh kepada sekolah dan pondok, sedangkan orang tua hanyalah mempersiapkan kebutuhan sandang, pangan, dan penginapan maka kita melihat bagaimana lemah nya generasi islam zaman ini.
Dimana generasi islam dahulu pernah menjadi panutan dunia, sedangkan generasi sekarang menjadi pengekor dunia. Maka kembalilah wahai ayah bunda kepada peran utama anda yaitu menjaga keluarga dari api neraka jahanam.
3. *Anak kita adalah anak yang sangat sepesial dan hebat*
Allah telah membekali untuk anak kita fitroh yang lurus, sehingga setiap anak adalah hebat, baik, dan mulia.
Rosulullah bersabda:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani"
Allah sudah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik, sebagaimana Firman Nya:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
"Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik"
Allah juga berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
"Dan sungguh Kami telah muliakan anak keturunan adam"
Dan kesempurnaan
Manusia mencakup bentuk Dzahir berupa tubuh dan fisik yang sempurna, demikian juga bentuk Batin yaitu fitroh dan karakter yang mulia.
Maka setiap anak sudah diinstal semua cakupan fitroh meliputi:
- Fitroh Iman yaitu bahwa semua anak pasti Cinta kpd Allah, Islam, Rosulullah, dan al Qur'an.
- Fitroh Belajar yaitu bahwa semua anak pasti pembelajar tangguh yang tidak pernah malu, menyerah, dan minder.
- Fitroh Bakat yaitu bahwa setiap anak sudah Allah berikan bakat dan kekuatan dalam dirinya untuk menyampaikan kepada peran-peran peradaban.
Anak-anak kita adalah hebat, mereka Cinta kepada Allah, haus kepada ilmu, dan terus menyempurnakan potensi mereka untuk mengisi peran peradaban yang Allah siapkan.
Tanggung jawab anda sebagai orang tua adalah menumbuhkan fitroh - fitroh ini dan menjaganya, anda tidak usah capek-capek merubahnya atau mengisi fitroh-fitroh tsb dalam diri anak.
Jika fitroh mereka sudah tumbuh dengan sempurna, setelah itu baru kita carikan guru terbaik yang bisa mengajari mereka jika kita tidak mampu. Akan tetapi jika belum tumbuh fitroh iman dan belajarnya, maka jangan lah anak tersebut dipindah untuk sekolah di luar rumah.
Oleh sebab itu mendidik anak sangatlah mudah dan enak. Karena tugas anda hanya membersamai semua aktifitas anak, dan memberikan motivasi kepada nya. Dan nanti anak anda lah yang akan mencari sendiri sarana untuk sampai kepada kesempurnaan walaupun di tengah perjalanan harus terseok-seok dan jatuh bangun.

Janganlah terlalu lebay, khawatir, dan ketakutan berlebihan terhadap masa depan anak walaupun zaman ini banyak kerusakan. Karena kalau zaman ini banyak kerusakan maka zaman dulu pun juga banyak kerusakan.
Masih ada Allah yang akan terus menjaga anak kita dalam mengarungi samudra kehidupan dunia yang bercampur antara kebaikan dan kerusakan, maka jangan sampai kita lupa untuk menyelipkan dalam do'a kita untuk kebaikan dan keselamatan buah hati kita sebagaimana Nabi Ibrohim dan nabi yang lain mendo'akan kepada keturunnya.
Sungguh kesyirikan di zaman ini tidak lebih parah dari kesyirikan zaman Nabi Ibrohim, kedzoliman penguasa zaman ini ngak separah zaman Nabi Musa, kebobrokan moral zaman ini ngak separah zaman nabi Luth, dan kerusakan akhlak zaman ini ngak sebanding dengan kafir quraisy di zaman Rosulullah.
Maka optimis lah kita akan masa depan anak kita, dan janganlah melihat hasil sekarang, akan tetapi petiklah buah pendidikan anda ketika anak sudah baligh. Biarkan anak kita sekarang seperti ulat yang memyebalkan, akan tetapi pasti akan datang masa dimana kita akan terpesona melihat anak anda terbang bagaikan kupu-kupu yang rupawan.
4. *Setiap kita sudah dibekali fitroh ke ayah-ibu an*
Maha bijaksana Allah yang telah menciptakan makhluq dengan sangat sempurna penuh dengan hikmah. Allah juga membekali bagi mereka sarana penunjang kelangsungan hidup mereka.
Binatang dibekali oleh Allah cara untuk menjalankan misi dia diciptakan shg Lebah bisa mengambil madu dari atas gunung, semut bisa menemukan gula yang manis, dan lainnya.
Demikian tumbuhan dibekali semua alat untuk menyerap nutrisi dari tanah dan mengolahnya menjadi buah yang rasanya lezat.
Demikian juga Manusia ketika diciptakan untuk beribadah dan menjadi Kholifah di muka bumi, maka Allah membekali syahwat dan akal untuk sampai kpd tujuan mulia ini. Tanpa syahwat roda kehidupan dunia tidak akan berjalan, dan tanpa akal ibadah kepada Allah tidak akan terwujud.
Coba kita baca firman Allah Ta'ala:
إِنَّا هَدَيْنَٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir". (Al Insan:3)
Allah Ta'ala juga berfirman :
قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ, مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ, مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ, ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ
"Binasalah manusia; alangkah amat kekafirannya? Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya, lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya", (Abasa 17-20)
Para ulama berbeda pendapat tentang jalan yang Allah mudahkan bagi setiap orang.
- Ada yang berpendapat bahwa jalan yang dimaksud adalah jalan keluar dari rahim ketika dilahirkan. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Ikrimah, Qotadah, dan lainya.
- Ada yang mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah dimudahkan amalan dengan dibekali semua sarana penunjangnya. Ini pendapat Hasan al Basri dan dirojihkan oleh Imam Ibnu Katsir.
Imam Ibnu A'syur berkata dalam tafsirnya:
لأن تيسير سبيل العمل الإنساني أعجب في الدلالة على بديع صنع الله ; لأنه أثر العقل وهو أعظم ما في خلق الإنسان وهو أقوى في المنة
"Sesungguhnya kemudahan jalan dalam amal setiap manusia merupakan bukti yang paling menakjubkan menunjukan indahnya penciptaan Allah, karena amal adalah buah dari hasil akal dan akal adalah perkara paling penting dalam penciptaan manusia, sehingga ini lebih kuat dalam kenikmatan"
Oleh sebab itu ketika Allah memilih anda sebagai ayah bunda yang memiliki tanggung jawab besar dalam mengasuh buah hati, maka pasti Allah tidak akan lupa akan perangkat untuk mendidik anak. Allah sudah membekali sarana untuk menjalankan tugas tersebut.
Oleh sebab itu setiap orang tua sudah dibekali fitroh ke-ayah bundaan untuk kelangsungan hidup anaknya, maka kita harus percayakan diri kita bahwa kita pasti mampu untuk mendidik anak kita jangan pernah minder dalam membersamai anak anda. Sungguh anak anda sangat butuh anda, nasehat-nasehat anda adalah kalimat sakti yang bisa menembus sanubari anak, kedekatan anda adalah Benteng kokoh bagi anak untuk menjalani roda kehidupan yang syarat dengan ringtangan ketika dewasa.
Lihat nasehat Luqman al hakim kepada putranya sangat luar biasa, renungan nasehat Nabi Ya'qub kepada putra-putranya ketika mau meninggal dunia, dan lihat nasehat Rosulullah kepada Fatimah dan anak - anak yang bersama beliau.
5. *Kita hanya berusaha, hasilnya kita serahkan kepada Allah*
Allah hanya melihat kepada usaha keras kita dalam mendidik anak, dan Allah tidak membebankan kepada kita hasil dan buahnya. Oleh sebab kita harus optimis dalam mendidik anak semaksimal mungkin, sedangkan hasilnya maka kita serahkan kepada Allah Ta'ala.
Karena semua anak kita sudah Allah gariskan taqdir kehidupannya masing-masing dari sejak awal fase kehidupan sampai finisnya yaitu surga atau neraka.
Kesholihan anak kita adalah harapan paling tinggi kita, akan tetapi kita tidak bisa menguasi hati mereka. Semua hati manusia berada diantara jari jemari Allah tunduk dibawah kekuasaanNya.
Allah tidak pernah mencela Nabi Ibrohim ketika bapak beliau kafir, atau Nabi Nuh ketika anak dan istrinya tidak mendapatkan hidayah, Nabi Luth ketika istrinya termasuk orang yang diadzab bersama kaumnya, atau Nabi Muhammad ketika paman Abu Lahab dan Abu Tholib meninggal dalam kondisi kafir. Hal ini karena mereka sudah semaksimal mungkin untuk mendakwahi mereka.
Namun Allah murka kepada Nabi Yunus yang lari dari kaumnya karena mereka enggan menerima dakwah beliau, akhirnya beliau dimakan oleh paus dan akhirnya beliau bertaubat. Ketika pulang ke kampung halaman, beliau mendapatkan kaumnya sudah beriman.
Maka mari kita semangat dalam mendidik anak kita, karena mendidik anak sangat mengasyikan dan sangat mudah.
Kita ngak pernah tau mengerti bagaimana masa depan anak kita, ibunya Imam Syafi'i ngak pernah tau jika anak yang beliau asuh dengan semaksimal mungkin akan menjadi Imam besar, orang tua Imam Bukhori ngak pernah 'ngeh' jika anaknya akan menjadi Amirul Mukminin dalam hadits. Ketika nanti anak kita akan menjadi orang hebat yang bermanfaat bagi umat, minimal kita yang banyak kekurangan ini pernah berjuang untuk kesuksesannya.
Semoga Allah menjadikan anak kita sebagai penyejuk hati di dunia dan aset mahal di akhirat. Dan semoga kita memiliki jawaban di hadapan Allah ketika ditanya tentang buah hati kita. Amin.
WALLAHU TA'ALA A'LAM.

gabung di chanel telegram kita
t.me/nasapreneur
@nasapreneur
Share:

Mulia Hanya di Dunia

┏📚Mengapa orang dzalim orang kafir tetap diberi rezeki didunia meski mereka banyak berbuat kerusakan dan tidak taat kepada Allah?

❒Ketahuilah bahwa kaya dan miskin bukanlah tanda ukuran kemulian dan kehinaan. Karena orang kafir saja Allah tetap beri mereka rizki, begitu juga dengan orang ahli maksiat pun Allah tetap beri mereka rizki. Itulah sifat Lathifnya Allah

■Allah berfirman

اللهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ القَوِيُّ العَزِيزُ
❖Allah Maha lembut terhadap hamba hamba-Nya; Dia memberi rezki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah yang Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Asy Syura: 19)

┏🍃🌹Allah berfirman tentang perkataan orang orang yang tidak beriman “Dan mereka 'orang kafir dzholim' berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak daripada kamu dan Kami sekali-kali tidak akan diazab.

┏🍃🌹Allah tegaskan; Katakanlah: “Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya

┏Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan pula anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang Tinggi didalam surga. (QS. Saba’: 35- 37)

┏📚Ketahuilah segala kenikmatan yang mereka salah gunakan bersifat istidraj. Yakni penguluran waktu diturunkannya adzab hingga tidak ada lagi kebaikan yang tersisa. Sehingga semua siksa menjadi akhir kehidupannya

🍃࿐
Sengaja Allah mengangkat kedudukan orang Dzalim agar manusia melihat kejatuhannya dari ketinggian

📰Belajarlah dari kisah fir'aun, Qorun, kaum Luth, Kaum Samud. Semoga kita mendapat hikmah


Buah leci buah rambutan.
Masak dibungkus sapu tangan.

Dunia ini hanya pinjaman.
Akhirat kekal kampung halaman.

💐Semoga Bermanfaat

Share:

Membangun Karakter Penyayang (Welas Asih)

عن أبي هريرة رضي الله عنه أيضاً قال،أنَّ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم، قَالَ: ((بَينَما رَجُلٌ يَمشي بِطَريقٍ اشْتَدَّ عَلَيهِ العَطَشُ، فَوَجَدَ بِئرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشربَ، ثُمَّ خَرَجَ فإذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يأكُلُ الثَّرَى مِنَ العَطَشِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الكَلْبُ مِنَ العَطَشِ مِثلُ الَّذِي كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنِّي فَنَزَلَ البِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أمْسَكَهُ بفيهِ حَتَّى رَقِيَ، فَسَقَى الكَلْبَ، فَشَكَرَ الله لَهُ، فَغَفَرَ لَهُ)) قالوا: يَا رَسُول اللهِ، إنَّ لَنَا في البَهَائِمِ أَجْرًا؟ فقَالَ: ((في كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أجْرٌ)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. وفي رواية للبخاري: ((فَشَكَرَ اللهُ لَهُ، فَغَفَرَ لَهُ، فأدْخَلَهُ الجَنَّةَ))

Dari Abu Hurairah Radliyallahu 'Anhu lagi bahawasanya Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wasallam bersabda:
"Pada suatu ketika ada seorang  berjalan di suatu jalan, ia sangat merasa haus, lalu menemukan sebuah sumur, kemudian turun di dalamnya terus minum. Setelah itu ia pun keluarlah. Tiba-tiba ada seekor anjing menghulur-hulurkan lidahnya sambil makan tanah kerana hausnya, Orang itu berkata - dalam hati; "Niscayalah anjing ini telah sampai pada kehausan sebagaimana yang telah sampai padaku tadi." la pun turun lagi ke dalam sumur lalu memenuhi sepatu khufnya dengan air, kemudian memegang sepatu itu pada mulutnya, sehingga ia keluar dari sumur tadi, terus memberi minum pada anjing tersebut. Allah berterima kasih pada orang tadi dan memberikan pengampunan padanya."
Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, apakah sebenarnya kita juga memperoleh pahala dengan sebab memberi - makan minum - pada golongan binatang?" Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam  menjawab:
"Dalam setiap hati yang basah - maksudnya setiap sesuatu yang hidup yang diberi makan minum - ada pahalanya." (Muttafaq 'alaih)
Dalam sebuah riwayat dari Imam Bukhari disebutkan demikian: "Allah lalu berterima kasih pada orang tersebut, kemudian memberikan pengampunan padanya, lalu memasukkannya ke dalam syurga."

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1- Hadis di atas mengandung suatu anjuran supaya kita semua berbuat baik terhadap segala macam binatang.

2- Watak raufun rahimun (penyang/welas asih) menyebabkan seseorang Diampuni dosanya dan dimasukkan kedalam surga-Nya.

3- Maka karakter penyayang ini( raufun rohimun) harus dibangun, untuk supaya mudah dan ringan berbuat baik kepada sesama bahkan sampai kepada binatang sebagai wasilah untuk mudah mendapatkan ampunan dan dimasukkan ke dalam surga-Nya.

4- Dalam ungkapan," perhatikan fikiranmu maka ia akan menjadi perbuatanmu, perhatikan perbuatanmu karena ia akan menjadi kebiasanmu, perhatikan kebiasanmu maka ia akan menjadi karaktermu, perhatikan karaktermu maka ia akan menjadi nasibmu.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

- Karakter baik Rasulullah yang harus ditiru oleh umatnya :

بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Amat  belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. [Q.S (9) At-Taubah: 128]

Share:

MEMA'AFKAN itu MULIA - Meminta MA'AF itu KSATRIA

💠Sangat manusiawi apabila kita berbuat salah.
Namun kesalahan yang paling fatal yaitu ketika kita tidak mau dan tidak ingin meminta maaf.

💠Sedangkan meminta ma'af itu merupakan tradisi orang-orang yang berjiwa besar, mulia dan ksatria. Yang dengannya kita bisa melihat serta mendapati bagaimana kualitas IMAN-nya.

➡Berlomba-lomba-lah meminta Ma'af & berlapang dada-lah didalam memberi Ma'af⬅

♻Sebuah KISAH....♻

↘Para sahabat tengah berkumpul disebuah majlis, waktu itu Rasulullah ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ tidak bersama mereka. Ada Khalid Bin Walid, Ibnu ‘Auf, Bilal dan Abu Dzar di Majlis itu. Mereka sedang membicarakan sesuatu, lalu Abu Dzar mengemukakan pendapatnya dan berkata,

“Menurutku… Pasukannya mestinya begini dan begitu.”

Bilal menyanggah, “Tidak, usulan yang keliru.”

Abu Dzar membalas, “Engkau juga wahai anak orang yang berkulit hitam menyalahkanku!?”

Bilal lalu berdiri, marah dan menyesalkan perkataan sahabatnya, dia lalu berkata,

“Demi Allah… Aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ”

Bilal tiba dihadapan Rasulullah ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ sambil mengadu,

“Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan Abu Dzar padaku?”

Rasulullah ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ bertanya,

“Apa yang dia katakan padamu?”

Bilal menjawab, “Dia mengatakan begini dan begitu…”

Wajah Rasulullah kemudian berubah.

Abu Dzar mendengar hal ini. Dia bergegas ke masjid dan menyapa Rasulullah ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ,

“Assalamu Alaikum warahmatullah wabarakatuh, Ya Rasulallah.”


Rasulullah menjawab, “Wahai Aba Dzar, apa dengan ibunya engkau menta’yirnya (menjelekkannya)? Sungguh pada dirimu ada kejahiliyaan.”

Abu Dzar sontak menangis, dia mendekat ke Rasulullah dan berkata,

“Wahai Rasulullah, mintalah kepada Allah agar mengampuniku.”

Sambil menangis, dia keluar dari masjid menemui Bilal yang sedang berjalan. Dia lalu membaringkan kepalanya sampai pipinya menempel ketanah dan berkata,

“Wahai Bilal. Demi Allah, aku tak akan mengangkat kepalaku sampai engkau menginjaknya dengan kakimu. Engkau adalah orang yang mulia dan aku orang yang hina!”

Hal ini membuat Bilal menangis. Dia mendekati sahabatnya, mencium pipinya dan berkata,

“Demi Allah, aku tak akan menginjak wajah yang pernah sujud kepada Allah.”

Mereka berdua lalu berdiri, berpelukan sambil menangis.
====================

😌Semoga Allah Swt memaafkan kita semua. Dan kami meminta maaf kepada semua yang pernah tersakiti dengan perkatan ataupun perbuatan kami.

“Tak ada kebaikan pada diri kita jika kita meninggal dalam keadaan belum saling memaafkan.”

_Jum'at, 9 Maret 2017_

Share:

100 PERINTAH ALLAH DALAM ALQUR'AN UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA SEHARI-HARI

1. Jangan berkata kasar
(QS 3 – Ali Imran : 159)

2. Tahanlah amarah
(QS 3 – Ali Imran : 134)

3. Berbaiklah kepada orang lain
(QS 4 – An Nisaa’ : 36)

4. Jangan sombong dan arogan
(QS 7 – Al A’raaf : 13)

5. Maafkanlah kesalahan orang lain
(QS 7 – Al A’raaf : 199)

6. Berbicaralah dengan nada halus
(QS 20 – Thaahaa : 44)

7. Rendahkanlah suaramu
(QS 31 - Luqman : 19)

8. Jangan mengejek orang lain
(QS 49 – Al Hujuraat : 11)

9. Berbaktilah pada orang tua
(QS 17 – Al Israa’ : 23)

10. Jangan mengeluarkan kata yang tidak menghormati orang tua
(QS 17 – Al Israa’ : 23)

11. Jangan memasuki kamar pribadi orang tua tanpa ijin
(QS 24 – An Nuur : 58)

12. Catatlah hutang-hutangmu (QS 2 – Al Baqarah : 282)*

*13. Jangan mengikuti orang secara membabi buta
(QS 2 – Al Baqarah : 170)

14. Berikanlah perpanjangan waktu bila orang yang berhutang kepadamu dalam kesulitan
(QS 2 – Al Baqarah : 280)

15. Jangan makan riba’/membungakan uang (QS 2 – Al Baqarah : 1)

16. Jangan melakukan penyuapan
(QS 2 – Al Baqarah : 188)

17. Jangan ingkar atau melanggar janji
(QS 2  Al Baqarah : 177)

18. Jagalah kepercayaan orang lain kepadamu
(QS 2 – Al Baqarah : 283)

19. Jangan campur adukan kebenaran dengan kebohongan
(QS 2 – Al Baqarah : 42)

20. Berlakulah adil terhadap semua orang
(QS 4 – An Nisaa’ : 58)

21. Tegakkanlah keadilan dengan tegas
(QS 4 – An Nisaa’ : 135)

22. Harta yang meninggal harus dibagikan kepada anggota keluarga
(QS 4 – An Nisaa’ : 7)

23. Wanita memiliki hak waris
(QS 4 – An Nisaa’ : 7)

24. Jangan memakan harta para anak yatim
(QS 4 – An Nisaa’ : 10)

25. Lindungi anak yatim
(QS 2 – Al Baqarah : 220)

26. Jangan memboroskan harta dengan semena-mena
(QS 4 – An Nisaa’ : 29)

27. Damaikanlah orang yang berselisih
(QS 49 – Al Hujuraat : 9)

28. Hindari prasangka buruk
(QS 49 – Al Hujuraat : 12)

29. Jangan memata-matai atau memfitnah orang
(QS 2 – Al Baqarah : 283)

30. Jangan memata-matai atau memfitnah orang
(QS 49 – Al Hujuraat : 12)

31. Gunakan harta untuk kegiatan sosial
(QS 57 – Al Hadid : 7)

32. Biasakan memberi makan orang miskin
(QS 107 – Al Maa’uun : 3)

33. Bantulah orang fakir yang berada di jalan Allah
(QS 2 – Al Baqarah : 273)

34. Jangan menghabiskan uang untuk bermegah-megah
(QS 17 – Al Israa’ : 29)

35. Jangan menyebut-nyebut tentang sedekahmu
(QS 2 – Al Baqarah : 264)

36. Hormatilah tamu anda
(QS 51 – Adz Dzaariyaat : 26)

37. Perintahkan kebajikan setelah kita melakukannya sendiri
(QS 2 – Al Baqarah : 44)

38. Jangan berbuat kerusakan di muka bumi
(QS 2 – Al Baqarah : 60)

39. Jangan menghalangi orang datang ke masjid
(QS 2 – Al Baqarah : 114)

40. Perangilah mereka yang memerangi mu
(QS 2 – Al Baqarah : 190)

41. Jagalah etika perang
(QS 2 – Al Baqarah : 191)

42. Jangan lari dari peperangan
(QS 8 – Al Anfaal : 15)

43. Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam)
(QS 2 – Al Baqarah : 256)

44. Berimanlah kepada para Nabi
(QS 2 – Al Baqarah : 285)

45. Jangan melakukan hubungan badan saat haid
(QS 2 – Al Baqarah : 222)

46. Susuilah anak-anakmu selama dua tahun penuh
(QS 2 – Al Baqarah : 233)

47. Jauhilah hubungan badan diluar nikah
(QS 17 – Al Israa’ : 32)

48.Pilihlah pemimpin berdasarkan ilmu dan jasanya
(QS 2 – Al Baqarah : 247)

49. Jangan membebani orang di luar kesanggupannya
(QS 2 – Al Baqarah : 286)

50. Jangan mau dipecah belah
(QS 3 – Ali Imran : 103)

51. Renungkanlah keajaiban dan penciptaan alam semesta ini
(QS 3 – Ali Imran 3 :191)

52. Lelaki maupun wanita mendapat imbalan yang sama sesuai perbuatannya
(QS 3 – Ali Imran : 195)

53. Jangan menikahi mereka yang sedarah denganmu
(QS 4 – An Nisaa’ : 23)

54. Keluarga harus di-imami oleh seorang laki-laki
(QS 4 – An Nisaa’ : 34)

55. Jangan pelit
(QS 4 – An Nisaa’ : 37)

56. Jangan iri hati
(QS 4 – An Nisaa’ : 54)

57. Jangan saling membunuh
(QS 4 – An Nisaa’ : 92)

58. Jangan membela ketidak jujuran atau kebohongan (QS 4 – An Nisaa’ : 105)*

*59. Jangan bekerja-sama dalam dosa dan kekerasan
(QS 5 – Al Maa-idah : 2)

60. Bekerja samalah dalam kebenaran
(QS 5 – Al Maa-idah : 2)

61. Mayoritas bukanlah merupakan kriteria kebenaran
(QS 6 – Al An’aam : 116)

62. Berlaku adil
(QS 5 – Al Maa-idah:8)

63. Berikan hukuman untuk setiap kejahatan
(QS 5 – Al Maa-idah : 38)

64. Berjuanglah melawan perbuatan dosa dan melanggar hukum
(QS 5 – Al Maa-idah : 63)

65. Dilarang memakan binatang mati, darah dan daging babi
(QS 5 – Al Maa-idah : 3)

66. Hindari minum racun dan alkohol
(QS 5 – Al Maa-idah : 90)

67. Jangan berjudi
(QS 5 – Al Maa-idah : 90)

68. Jangan menghina keyakinan atau agama orang lain
(QS 6 – Al An’aam : 108)

69. Jangan mengurangi timbangan untuk menipu
(QS 6 – Al An’aam : 152)

70. Makan dan minumlah secukupnya
(QS 7 – Al A’raaf : 31)

71. Kenakanlah pakaian yang bagus saat shalat
(QS 7 – Al A’raaf : 31)

*72. Lindungi dan bantulah mereka yang meminta perlindungan
(QS 9 – At Taubah:6)

73. Jagalah kemurnian
(QS 9 – At Taubah : 108)

74. Jangan pernah putus asa akan pertolongan Allah
(QS 12 – Yusuf : 87)

75. Allah mengampuni orang yang berbuat dosa karena ketidak-tahuan
(QS 16 – An Nahl : 119)

76. Berseru kepada jalan Allah dengan cara yang baik dan bijaksana
(QS 16 – An Nahl : 125)

77. Tidak ada seorangpun yang menanggung dosa orang lain
(QS 17 – Al Israa’ : 15)

78. Jangan membunuh anak-anakmu karena takut akan kemiskinan
(QS 17 – Al Israa’ : 31)

79. Jangan mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki pengtahuan tentangnya
(QS 17 – Al Israa’ : 36)

80. Jauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat
(QS 23 – Al Mu’minuun : 3)

81. Jangan memasuki rumah orang lain tanpa ijin pemilik rumah
(QS 24 – An Nuur : 27)

82. Allah menjamin imbalan kebaikan hanya kepada mereka yang percaya kepada Allah
(QS 24 – An Nuur : 55)

83. Berjalanlah di muka bumi dengan rendah hati
(QS 25 – Al Furqaan : 63)

84. Jangan melupakan kenikmatan dunia yang telah Allah berikan
(QS 28 – Al Qashash : 77)

85. Jangan menyembah Tuhan selain Allah
(QS 28 – Al Qashash:88)

86. Jangan terlibat dalam homosexualitas
(QS 29 – Al ‘Ankabuut : 29)

87. Berbuat baik dan cegahlah perbuatan munkar
(QS 31 - Luqman : 17)

88. Janganlah berjalan di muka bumi dengan sombong
(QS 31 - Luqman : 18)

89. Wanita dilarang memamerkan diri
(QS 33 – Al Ahzab : 33)

90. Allah mengampuni semua dosa-dosa kita
(QS 39 – Az Zumar : 53)

91. Jangan berputus asa akan ampunan Allah
(QS 39 – Az Zumar : 53)

*92. Balaslah kejahatan dengan kebaikan
(QS 41 – Fushshilat : 34)

93. Selesaikan pesoalan dengan bermusyawarah
(QS 42 – Asy Syuura : 38)

94. Orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang bertaqwa
(QS 49 – Al Hujuraat : 13)

95. Tidak ada dikenal biara dalam agama (Islam)
(QS 57 – Al Hadid : 27)

96. Allah akan meninggikan derajat mereka yang berilmu
(QS 58 – Al Mujaadilah : 11)

97. Perlakukan non-Muslim dengan baik dan adil
(QS 60 - Al Mumtahanah : 8)

98. Hindari diri dari kekikiran
(QS 64 – At Taghaabun : 16)

99. Mohon ampunan kepada Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
(QS 73 – Al Muzzammil : 20)

100. Jangan menghardik orang yang meminta-minta
(QS 93 – Adh Dhuhaa : 10)

Share:

JANGAN ENGKAU MARAH

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ

🔖 Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya, bahwa seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, "Berwasiatlah kepadaku." Beliau bersabda, "Jangan engkau marah !" orang itu terus mengulanginya (meminta nasehat berkali-kali) kepada beliau, lalu Nabi menjawab, "Jangan engkau marah!"
📚 (HR. Al-Bukhari)

✏️ Faedah dan Pelajaran :

📙Di antara faedah dan pelajaran dalam hadits ini adalah :

1⃣ Semangat para sahabat untuk memperoleh hal yang bermanfaat, hal ini berdasarkan perkataan sahabat tadi, "Berwasiatlah kepadaku."

2⃣ Orang yang mengajak bicara hendaklah berbicara kepada lawan bicaranya dengan sesuatu yang sesuai dengannya. Ini adalah kaidah yang sangat penting. Mengapa Rasulullah tidak memberikan wasiat kepadanya agar bertakwa kepada Allah ? jawabnya, karena setiap manusia sebaiknya diajak berkomunikasi sesuai dengan keadaannya. Besar kemungkinan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tahu bahwa laki-laki tersebut suka marah, maka beliau pun memberinya wasiat seperti itu (yakni, agar ia tidak marah).

3⃣ Larangan marah, bedasarkan sabda beliau, "Jangan engkau marah," karena marah akan mengakibatkan munculnya keburukan yang banyak jika seseorang mengikuti keinginan untuk marah.

4⃣ Islam melarang berakhlak buruk, berdasarkan sabda beliau, "Jangan engkau marah." Larangan berakhlak buruk berarti perintah untuk sebaliknya, yaitu perintah berakhlak baik. Biasakan diri Anda untuk bersabar dan tidak marah.

📚 [Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah, (e.i, 278-281)]

Share:
Copyright © 2018 Powered by SYUKROLUDIRO.CO. Diberdayakan oleh Blogger.

Menjalani Hidup dengan Mentalitas Mujahid

Salah satu adab seorang muslim terhadap Al-Quran adalah memuliakannya. Memuliakan dengan membaca, menadaburi dan melaksanakan sepenuh hati. ...

Promosikan Blog Anda!

Social

Recent Posts

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.