Just Sharing Berbagi itu indah, berbagi tidak akan mengurangi tapi dengan berbagi akan menambah


Jangan Ragu Ucapkan Minal ‘Aidin Wal-Faizin

_oleh_ Faris Khoirul Anam
(Aswaja NU Center Jawa Timur)

Pada hari-hari di penghujung Ramadhan ini, beredar BC bertajuk 'Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah?' Seingat saya, jelang hari raya di tahun-tahun sebelumnya, BC tersebut juga tersebar.

Intinya, tulisan itu 'mempermasalahkan' beberapa hal yang telah menjadi tradisi kebiasaan umat Islam, khususnya di Indonesia.

Berikut isi lengkap tulisan by no name yang menyebar via BB, WA, atau media sosial lainnya:

"Sehubungan dengan akan datangnya Idul Fitri, sering kita dengar tersebar ucapan: “MOHON MAAF LAHIR&BATHIN”.

Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf.

Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri.

Demikian Rasulullah mengajarkan kita. Tidak ada satu ayat Qur'an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir & Batin ”di saat-saat Idul Fitri.

Satu lagi, saat Idul Fithri, yakni mengucapan : “MINAL'AIDIN WAL FAIZIN”. Arti dari ucapan tersebut adalah: “Kita kembali&meraih kemenangan.”

KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan?

Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yg ucapkan "Minal‘Aidin wal Faizin” Lantas diikuti dengan kalimat "Mohon Maaf Lahir&Batin ”.

Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh KELIRU luar biasa.

Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain.. PASTI PADA BINGUNG!

Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.

Ucapan yg lebih baik & dicontohkan langsung oleh para sahabat ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yaitu :

"TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM" (Semoga Allah menerima amalku & amal kalian). Jadi lebih baik, ucapan/SMS/BBM kita:  Taqobbalallahu minna wa minkum. (Selesai)

*TANGGAPAN*

*Riwayat 'Taqabbalallahu Minna wa Minkum' dan Ihwal Ucapan Selainnya*

Riwayat yang menjelaskan ucapan 'Taqabbalallahu Minna wa Minkum' dituturkan oleh Muhammad bin Ziyad. Ia menceritakan kejadian kala bersama Abu Umamah al-Bahili dan lainnya dari sahabat Rasulullah SAW. Syahdan, sepulang dari Shalat Id, mereka saling mengatakan,

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ

Imam Ahmad menjelaskan, sanad hadits Abu Umamah ini Jayyid

Ali bin Tsabit berujar,

سألت مالك بن أنس منذ خمس وثلاثين سنة وقال: لم يزل يعرف هذا بالمدينة.

"Aku bertanya pada Malik bin Anas sejak 35 tahun. Dia menjawab, 'Hal (ucapan) ini selalu ditradisikan di Madinah."

Dalam Sunan al-Baihaqi disebutkan:

عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ قَالَ: لَقِيتُ وَاثِلَةَ بْنَ الأَسْقَعِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: نَعَمْ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، قَالَ وَاثِلَةُ: لَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: نَعَمْ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ.

Diriwayatkan dari Khalid bin Ma'dan, ia berkata, "Aku bertemu Watsilah bin Asqa' pada hari Raya. Aku katakan padanya: Taqabbalallahu minna wa minka. Watsilah menanggapi, 'Aku pernah bertemu Rasulullah SAW pada hari raya, lantas aku katakan 'Taqabbalallahu minna wa minka'. Beliau menjawab, 'Ya, Taqabbalallahu minna wa minka."

Kedua riwayat ini memberikan benang merah, ucapan 'Taqabbalallahu minna wa minka' merupakan bacaan yang disyariatkan (masyru') dan hukum mengucapkannya sunnah.

*Apakah Ucapan Lain Tidak Boleh?*

Ucapan selamat atau tahniah atas datangnya momen tertentu bisa saja merupakan tradisi atau adat. Sementara hukum asal suatu adat adalah boleh, selagi tidak ada dalil tertentu yang mengubah dari hukum asli ini. Hal ini juga merupakan madzhab Imam Ahmad. Mayoritas ulama menyatakan, ucapan selamat pada hari raya hukumnya boleh (lihat: al-Adab al-Syar'iyah, jilid 3, hal. 219).

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, ucapan selamat (tahniah) secara umum diperbolehkan, karena adanya nikmat, atau terhindar dari suatu musibah, dianalogikan dengan validitas sujud syukur dan ta'ziyah (lihat al-Mausu'ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, jilid 14, hal 99-100).

Berdasarkan keterangan di atas, maka setiap ucapan baik, apalagi merupakan doa, dalam momen nikmat atau bahkan musibah, adalah sesuatu yang boleh, bahkan baik untuk dilakukan. Dengan kalam lain, ucapan di Idul Fitri yang terbaik memang 'taqabbalallahu minna wa minkum'. Namun bukan berarti doa dan ucapan lain yang baik itu tidak diperbolehkan.

*Meluruskan Makna Minal 'Aidin Wal Faizin*

Minal 'Aidin wal Faizin dalam bahasa Indonesia berarti 'Semoga kita termasuk orang yang kembali dan menuai kemenangan'.

Kita yakin, orang yang mengucapkannya tidak akan memaknainya 'kembali pada kemaksiatan pascaramadhan, meraih kemenangan atas bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan'.

Pun, jangan memaknai Minal 'Aidin Wal Faizin' dengan 'Mohon Maaf Lahir Batin', hanya karena biasanya dua kalimat itu beriringan satu sama lain. Itu sama saja dengan 'membahasa-Inggriskan' keset dengan welcome, dengan alasan tulisan itu biasanya ada di keset.

Makna popular kalimat tersebut adalah 'Ja'alanallahu wa iyyakum minal 'aidin ilal fithrah wal faizin bil jannah' (Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang kembali pada fitrah dan menuai kemenangan dengan meraih surga).

Jadi jangan khawatir. Maknanya bukan kembali ke perbuatan maksiat dan menang telah menaklukkan Ramadhan. Tanda orang yang diterima ibadahnya, ia makin meningkatkan ketaatan dan makin meninggalkan kemaksiatan (min 'alamati qabulit-tha'ah fa innah tajurru ila tha'atin ukhra).

Apa makna fitrah? Setidaknya ia memiliki dua makna: Islam dan kesucian.

Makna pertama diisyaratkan oleh hadits:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia (sebagai/seperti) Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR al-Bukhari dan Muslim)

Sisi pengambilan kesimpulan hukum atau wajh al-istidlal-nya, Nabi telah menyebutkan agama-agama besar kala itu, namun Nabi tidak menyebutkan Islam. Maka fitrah diartikan sebagai Islam.

Dengan ujaran lain, makna kembali ke fitrah adalah kembali ke Islam, kembali pada ajaran, akhlak, dan keluhuran budaya Islam.

Makna fitrah yang kedua adalah kesucian. Makna ini berdasarkan hadits Nabi:

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ: الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

"Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut/menghilangkan bulu ketiak, dan memotong kumis." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kelima macam fitrah yang disebutkan dalam hadits ini kesemuanya kembali pada praktik kebersihan dan kesucian. Dapat disimpulkan kemudian bahwa makna fitrah adalah bersih dan suci.

Jadi, 'minal 'Aidin ilal fithrah', berarti kita mengharap kembali menjadi orang bersih dan suci. Dengan keyakinan pada hadits Nabi, orang yang shiyam dan qiyam (berpuasa dan menghidupkan malam) di bulan Ramadhan, karena iman dan semata mencari ridha Allah, akan diampuni dosanya yang telah lalu. Harapannya, semoga kita seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibu, bersih-suci dari salah dan dosa. Amin...

Sementara panjatan doa "Semoga kita menuai kemenangan dengan meraih surga - Wal Faizin bil jannah", sangat terkait dengan tujuan puasa Ramadhan dan happy ending bagi orang yang berhasil membuktikan tujuan itu.

Dalam al-Baqarah ayat 183 dijelaskan bahwa tujuan puasa Ramadhan adalah 'agar kalian bertakwa (la'allakum tattaqun)'.

ياأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

Sedangkan Surat al-Hijr ayat 45 dan Ali Imran ayat 133 menjelaskan, bagi orang bertakwa itu hadiahnya adalah surga.

Allah berfirman dalam al Hijr ayat 45:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ.

Sedangkan dalam Ali Imran ayat 133 disebutkan:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ.

Ringkasnya, puasa berdampak takwa. Takwa berhadiah surga.

Hal inilah yang menjadi harapan orang yang berpuasa Ramadhan. Ia ingin dijadikan sebagai orang bertakwa dengan sebenarnya, dan mengharap menjadi salah satu penghuni surga.

Itulah makna kemenangan yang terucap dalam 'wal faizin' itu. Bukan kemenangan atas Ramadhan, sehingga bebas melakukan keburukan karena merasa sudah 'menang'!

*Minta Maaf di Idul Fitri Keliru?*

Orang yang minta maaf di hari Raya, in syaa-Allah tidak meyakini minta maaf itu hanya khusus di hari Raya. Ini adalah ikhtiar untuk kesempurnaan ibadah.

Islam agama paripurna. Tidak sempurna iman seseorang sampai dua sisi tali hablun minallah dan hablun minannas sama-sama dikuatkan. Dalam sekian hadits dijelaskan misalnya, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, 'hendaknya dia menghormati tamunya', 'hendaknya dia mengatakan yang baik atau diam', dan seterusnya.

Surat al-Ma'un juga menjelaskan, pendusta hari pembalasan itu orang yang menolak anak yatim dan tidak memperdulikan orang miskin. Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar (tanha 'anil fahsyaa-i wal munkar). Zakat atau sedekah itu membersihkan dan mensucikan mereka (tuthahhiruhum wa tuzakkihim biha).

Dus, dari sekian penjelasan baik dari al-Qur'an maupun Sunnah itu, akhirnya seorang muslim sangat memahami, ada misi kebaikan secara vertikal dan horizontal. Siapa yang mengaku bertauhid, harus baik pula dalam wilayah sosial. Kalau puasa Ramadhan adalah hubungan baik secara vertikal, mengapa kemudian untuk minta maaf pascaramadhan sebagai ranah sosial dilarang?

_Wallahu a'lam.¬¬_

Akhirul kalam.
Selamat merayakan Idul Fitri.
Taqabbalallahu minna wa minkum.
Minal 'aidin wal faizin.
Mohon maaf lahir batin.

Share:

Al Hakim

Hakim, berarti "orang yang memutuskan hukum". Dalam istilah fikih, hakim juga dipakai sebagai orang yang memutuskan hukum di pengadilan yang sama maknanya denga qadhi. Sedangkan dalam ushul fikih, kata hakim berarti pihak penentu dan pembuat hukum syariat yang hakiki.

Umat Islam secara keseluruhan menyepakati bahwa sumber segala macam hukum taklif & wadh'i adalah dari Allah SWT. Baik dengan jalan menetapkan nash dalam Al Quran, As Sunnah, atau dengan perantara ulama ahli fiqh dan para mujtahid. Para mujtahid ini hanyalah menampakkan hukum, bukan pencetus hukum dari dirinya sendiri. Allah berfirman:
اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ ؕ
"... Tidaklah keputusan (hukum) itu melainkan hanyalah hak Allah..." (QS. Al-An'am [6]: Ayat 57)

Namun demikian, terjadi perbedaan pendapat dalam masalah "Apakah hukum-hukum yang dibuat Allah hanya diketahui dengan turunnya wahyu dan datangnya Rasulullah, atau akal secara independen bisa juga mengetahui hukum (tanpa adanya wahyu dan Rasul)?" Perbedaan ini berpangkal dari fungsi akal dalam mengetahui baik (hasan) dan buruk (qabih) sesuatu hal.

Asy'ariyah berpendapat, penunjuk hukum hanyalah Rasul, dan tidak ada peluang memahami hukum melalui akal. Sehingga di masa sebelum terutusnya Rasul, perbuatan manusia tidak terikat hukum dari Allah SWT, perbuatan hukum tidak terkena vonis haram, dan keimanan tidak menjadi sebuah kewajiban.

Berbeda dengan Mu'tazilah, mereka mengatakan bahwa akal memungkinkan memahami hukum Allah SWT dalam perbuatan manusia. Dan perbuatan tersebut akan terikat dengan hukum sesuai dengan ketetapan yang disimpulkan akal, berisi sifat baik dan buruk, baik secara dzatiyah, faktor-faktor lain, maupun karena aspek sudut pandang. Menurut mereka, sebenarnya syariat menyingkap atas perkara yang telah difahami akal sebelumnya.

~~~~~
Channel Telegram:
Telegram.me/UshulFikih Praktis

Share:

KEUTAMAAN MALAM LAILATUL QODR

�� *MALAM LAILATUL QODR*����
�� **

Alloh Ta'alaa berfirman:

(إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ) 

_"Sesungguhnya Kami menurunkannya (al Quran) pada malam Lailatul Qadr. Malam Lailatul Qadr adalah *lebih baik dari seribu bulan*. Para malaikat dan ar Ruh (Jibril) turun pada malam itu dengan ijin Rabb mereka dari segala urusan (tahun itu). Keselamatan pada malam itu hingga terbit fajar"_ *
( Al Qadr : 1-5)*

*1000 bulan = 83 tahun lebih.*

Pada riwayat lain:

 ( من قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه)

"Barang siapa yang menegakkan lailatul qodr karena dorongan iman dan ihtisab (mengharap) pahala, maka Allah akan *ampuni dosanya yang telah lalu*".
(H.R Al Bukhari no.1768, An Nasa’i no. 2164, Ahmad no. 8222)

⏰ *KAPAN MALAM LAILATUL QODR?*

Rasulullah sholallohu alaihi wasallam :

« تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ».

"Carilah lailatul qodr pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan.
(H.R Al Bukhari no. 1878)

��Dari shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan:

عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ إِذَا قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: لَيْلَةُ سَبْع وَعِشْرِيْنَ

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya apabila beliau menjelaskan tentang Lailatul Qadr maka beliau mengatakan : *“(Dia adalah) Malam ke-27″*.
(H.R Abu Dawud, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Asy-Syaikh Muqbil dalam Shahih Al-Musnad).

����Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Adapun pengkhususan (memastikan) malam tertentu dari bulan Ramadhan sebagai Lailatul Qadr, maka perlukan dalil. Akan tetapi pada malam-malam ganjil dari 10 hari terakhir Ramadhan itulah kemungkinan terjadinya Lailatul Qadr(Fatawa Ramadhan, hal.856)

�� *TANDA-TANDA LAILATUL QODR*

✅Pagi harinya matahari terbit dalam keadaan tidak menyilaukan, seperti halnya bejana (yang terbuat dari kuningan).
(H.R Muslim)

✅Lailatul Qadr adalah malam yang tenang dan sejuk (tidak panas dan tidak sejuk) serta sinar matahari di pagi harinya tidak menyilaukan.
(H.R Ibnu Khuzaimah dan Al Bazzar)

☝�� *DOA DI MALAM LAILATUL QODR*

��Aisyah bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

_"Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku menepati Lailatul Qadr, dengan apa aku berdoa? "_

��Beliau bersabda,  Ucapkanlah :

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
_"Yaa Allah Engkau adalah Maha Pemaaf mencintai maaf, maka maafkanlah aku"_
(Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan at-Tirmidzi, beliau berkata : hadits hasan shahih).

Share:

LAILATUL QADAR Untuk WANITA HAID

Kenapa muslimah yang lagi masuk 'redzone'
1. Pada sedih takut gak dapet lailatul qadar di 10 hari terakhir?
2. Motivasi baca Quran turun drastis, atau kadang memilih tak tilawah sama sekali?

Karena PAKULINAN. Padahal hukumnya jelas sejelas matahari siang. Ya begitulah, soal 'rasa' kadang lebih mendominasi dalam beramal dari pada soal hukum aslinya.

Begini hukumnya:
�� LAILATUL QADAR Untuk WANITA HAID

Untuk wanita haid yang ingin medapatkan malam lailatul qadar. Wanita haid bisa melakukan banyak ibadah selain shalat.

Juwaibir mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh-Dhahak,
_“Bagaimana pendapatmu tentang wanita nifas, haid, musafir, dan orang yang tidur; apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?”_

Adh-Dhahak pun menjawab, _“Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. *Setiap orang yang Allah terima amalannya akan mendapatkan bagian lailatul qadar.”*_ (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 341)

Keterangan ini menunjukkan bahwa wanita haid, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian lailatul qadar. Hanya saja, wanita haid dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat. Untuk bisa mendapatkan banyak pahala ketika lailatul qadar, wanita haid atau nifas masih memiliki banyak kesempatan ibadah.

Di antara bentuk ibadah yang bisa dilakukan adalah:

�� Membaca Alquran tanpa menyentuh mushaf. Yang dilarang adalah menyentuh mushaf. Sepanjang yg dibaca bukan mushaf (quran ada terjemahan, android, dll) ya ndak papa. Tentang hal ini secara lebih lengkap sila baca di https://muslimah.or.id/6153-solusi-bagi-wanita-haidh-supaya-bisa-membaca-al-quran.html
�� Berzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih _(subhanallah),_ tahlil _(la ilaha illallah),_ tahmid _(alhamdulillah),_ dan zikir lainnya.
�� Memperbanyak istigfar.
�� Memperbanyak doa.
❄ Membaca zikir ketika lailatul qadar, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat dari Aisyah radhiallahu ‘anha,
_“Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jika aku menjumpai satu malam yang itu merupakan lailatul qadar, apa yang aku ucapkan?’_
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, _“Ucapkanlah,_

‘اللَّـهُـمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُـحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي’

_(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha Pemaaf dan Pemurah maka maafkanlah diriku.)'”
____________
(Hadis sahih; diriwayatkan At-Turmudzi dan Ibnu majah)

Dalam Fatwa Islam Tanya-Jawab dijelaskan,
_*“Wanita haid boleh melakukan semua bentuk ibadah, kecuali shalat, puasa, tawaf di ka’bah, dan i’tikaf di masjid.*_

�� *Menghidupkan lailatul qadar tidak hanya dengan shalat, namun mencakup semua bentuk ibadah.*

☘ Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, ‘Makna ‘menghidupkan malam lailatul qadar’ adalah begadang di malam tersebut dengan melakukan ketaatan.’

�� An-Nawawi mengatakan, “Makna ‘menghidupkan lailatul qadar’ adalah menghabiskan waktu malam tersebut dengan bergadang untuk shalat dan amal ibadah lainnya.'”

�� *Kesimpulan:*
Meskipun wanita berhalangan, mereka masih mampu untuk mendapatkan malam lailatul qadar.

Fr: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://konsultasisyariah.com, dengan sedikit tambahan.

Share:

PERISTIWA RAMADHAN YANG MEMILUKAN

Moch. Tolchah:

“Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”

Itulah teriakan Abdurrahman bin Muljam Al Murodi (Khawarij) ketika menebas tubuh Ali bin Abi Thalib, -karomallahu wajhah- pada saat bangkit dari sujud shalat Subuh pada 19 Ramadhan 40 H itu.
Abdur Rahman bin Muljam menebas tubuh Sayidina Ali bin Thalib dg pedang yg sudah dilumuri racun yang dahsyat. Racun itu dibelinya seharga 1000  Dinar.
Tubuh Sayidina Ali bin Abi Thalib mengalami luka parah, tapi beliau masih sedikit bisa bertahan. 3 hari berikutnya (21 Ramadhan 40 H) nyawa sahabat yang telah dijamin oleh Rasululah SAW menjadi penghuni surga itu hilang di tangan seorang muslim yang selalu merasa paling Islam.

Ali dibunuh setelah dikafirkan.
Ali dibunuh setelah dituduh tidak menegakkan hukum Allah.
Ali dibunuh atas nama hukum Allah.
Itulah kebodohan dan kesesatan orang Khawarij yang saat ini mulai ditiru oleh sebagian umat Islam.

Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksinya Ibnu Muljam juga tidak berhenti membaca Surat Al Baqarah ayat 207 sebagai pembenar perbuatannya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Maka sebagai hukuman atas kejahatannya membunuh khalifah Ali, Ibnu Muljam kemudian dieksekusi mati dengan cara qishas. Proses hukuman mati yang dijalankan terhadap Ibnu Muljam juga berlangsung dengan penuh dramatis. Saat tubuhnya diikat untuk dipenggal kepalanya dia masih sempat berpesan kepada algojo:

“Wahai Algojo, janganlah engkau penggal kepalaku sekaligus. Tetapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”

Ibnu Muljam meyakini dengan sepenuh hati bahwa aksinya mencabut suami Sayyidah Fathimah, sepupu Rasulullah, dan ayah dari Al-Hasan dan Al-Husein itu adalah sebuah aksi jihad fi sabilillah.

Seorang ahli surga harus meregang nyawa di tangan seorang muslim yang meyakini aksinya itu adalah di jalan kebenaran demi meraih surga Allah.

Potret Ibnu Muljam adalah realita yang terjadi pada sebagian umat Islam di era modern. Generasi pemuda yang mewarisi Ibnu Muljam itu giat memprovokasikan untuk berjihad di jalan Allah dengan cara memerangi, dan bahkan membunuh nyawa sesama kaum muslimin.

Siapa sebenarnya Ibnu Muljam? Dia adalah lelaki yang shalih, zahid dan bertakwa dan mendapat julukan Al-Muqri’.
Sang pencabut nyawa Sayyidina Ali itu seorang hafidz  (penghafal Alquran) dan sekaligus orang yang mendorong sesama muslim untuk menghafalkan kitab suci tersebut.

Khalifah Umar bin Khattab pernah menugaskan Ibnu Muljam ke Mesir untuk memenuhi permohonan ‘Amr bin ‘Ash untuk mengajarkan hafalan Alquran kepada penduduk negeri piramida itu. Dalam pernyataannya, Khalifah Umar bin Khattab bahkan menyatakan:
“Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Alquran yang aku prioritaskan untukmu ketimbang untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Alquran kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia wahai ‘Amr bin ‘Ash” kata Umar.

Meskipun Ibnu Muljam hafal Alquran, bertaqwa dan rajin beribadah, tapi semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya. Afiliasinya kepada sekte Khawarij telah membawanya terjebak dalam pemahaman Islam yang sempit. Ibnu Muljam menetapkan klaim terhadap surga Allah dengan sangat tergesa-gesa dan dangkal. Sehingga dia dengan sembrono melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam. Alangkah menyedihkan karena aksi itu diklaim dalam rangka membela agama Allah dan Rasulullah.

Sadarkah kita bahwa saat ini telah lahir generasi-generasi baru Ibnu Muljam yang bergerak secara massif dan terstruktur. Mereka adalah kalangan saleh yag menyuarakan syariat dan pembebasan umat Islam dari kesesatan. Mereka menawarkan jalan kebenaran menuju surga A

llah dengan cara mengkafirkan sesama muslim. Ibnu Muljam gaya baru ini lahir dan bergerak secara berkelompok untuk meracuni generasi-generasi muda Indonesia. Sehingga mereka dengan mudah mengkafirkan sesama muslim, mereka dengan enteng menyesatkan kiai dan ulama.

Raut wajah mereka memancarkan kesalehan yang bahkan tampak pada bekas sujud di dahi. Mereka senantiasa membaca Alquran di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi. Rasulullah dalam sebuah hadits telah meramalkan kelahiran generasi Ibnu Muljam ini:

Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Alquran. Dimana bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Alquran dan mereka menyangka bahwa Alquran itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Alquran itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya. (Sahih Muslim, hadits No.1068)

Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin.

Wahai kaum muslimin, waspadalah pada gerakan generasi Ibnu Muljam.
Mari kita siapkan generasi muda kita agar tidak diracuni oleh golongan Ibnu Muljam gaya baru. Islam itu agama Rohmatan Lil Alamin. Islam itu agama keselamatan. Islam itu merangkul, dan bukan memukul.

Share:

DAUN KELOR TERNYATA AJAIB... MASYAALLAH

✩✩✩✩✩✩✩✩✩✩✩✩✩

Alhamdulillah, telah hadir setetes kesembuhan dari Allah SWT yang dititipkanNya pada tanaman yang tanpa kita sadari banyak tumbuh di sekitar kita yang biasa nya kita kenal dengan sebutan "Kelor", yang telah dinobatkan oleh WHO sebagai "Sang Pohon Ajaib" ("The Magic Tree").‎
Peribahasa kuno mengatakan: "Dunia tak selebar daun Kelor", tapi ternyata kandungan gizinya dan khasiatnya bagi kesehatan tertinggi di Dunia.‎

Pohon Kelor adalah tanaman asli Indonesia yang dalam bahasa biologinya bernama Moringa Oleifera.‎ Seiring berjalannya waktu, penelitian ilmiah tentang manfaat Daun Kelor yang didengungkan sejak dahulu pun diteliti secara ilmiah. Seorang ahli obat tradisional, Gunter Harnisch dalam pengantar buku mengenai kejaiban Pohon Kelor menyebutkan keunggulan-keunggulan tanaman tersebut berdasarkan beberapa penelitian, seperti juga yang diungkapkan Peneliti Senior Bidang Etnobotani Pusat Penelitian Biologi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko B. Walujo, dalam Seminar Ilmiah Tanaman Obat Kelor di Kantor Badan POM, Jakarta pada tanggal 12 Agustus 2015 yang lalu.

Berikut keunggulan Daun Kelor dibandingkan dengan yang lain:‎
- 2x lebih banyak dari protein pada kedelai;
- 6x lebih banyak dari Vitamin C pada jeruk;
- 4x lebih banyak dari Vitamin A pada wortel;
- 4x lebih banyak dari kalsium pada susu;
- 7x lebih banyak dari kalium pada pisang;
- 7x lebih banyak dari vitamin B1 dan B2 pada ragi;
- 6x lebih banyak dari polifenol pada anggur merah;
- 4x lebih banyak dari asam folat pada hati sapi;
- 4x lebih banyak dari vitamin E pada gandum;
- 2x lebih banyak dari serat pada gandum;
- 1,5x lebih banyak dari asam amino esensial pada telur;
- 25x lebih banyak dari zat besi pada bayam.

Manfaat Daun Kelor:‎
1. Menurunkan tekanan darah tinggi;
2. Mengurangi kolesterol buruk;
3. Meningkatkan kinerja jantung;
4. Menurunkan kadar gula dalam darah (mencegah/menyembuhkan diabetes);
5. Sebagai antioksidan, mengeluarkan racun dlm tubuh;
6. Anti kanker/tumor;
7. Mencegah kerusakan hati dan ginjal;
8. Mengatasi kemandulan;
9. Menyembuhkan penyakit splenomegali yaitu terjadinya pembengkakan pada limpa;‎
10. Mempercepat produksi sel darah merah ( baik diminum untuk ibu2 pasca kelahiran);
11. Memperkuat rahim;
12. Membantu meringankan sakit pegal karena asam urat dan rematik.

Referensi lain tentang Pohon/Daun Kelor:
- ‎https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kelor

Semoga bermanfaat...
����☘

Share:

MUTIARA YANG SERING DILUPAKAN

Sepasang suami isteri kaya masuk rumah n mereka dapati ruang makan yg kotor n tercium aroma pesing.

Sementara di sudut meja makan nampak ibu tua sedang berusaha keras untuk bisa menyapu.
Dengan suara keras membentak ibu tua itu.

L: Ini pasti ulah ibu, kan?
Ibu ngompol di lantai ya? Liat tuh, meja kotor dgn makanan yg tercecer, lantai juga (marah n geram) Waduuh, ibu...ibu! Ini rumah atau gudang ?

Istri : Sudahlah pak, jgn bentak ibu seperti itu, kasian, ibu kan sudah tua

Suami: Tidak bisa begini terus menerus.
Kalau tiba² ada tamu yg datang, apa jadix? Sebaikx esok kita bawa ibu ke panti jompo. Saya akan bawa !

Istri: Jangan pak. Itu kan ibumu, masa' dibawa ke panti jompo pak?

Setelah ibu tua itu dibawa ke panti jompo, si suami benahi kamar ibux.
Dibawah kasur ditemukan sebuah buku lusuh dgn kertas yg agak kuning kusam.
Dia tertarik krn koq ada foto dirix sejak kecil n remaja, di halaman depan bertuliskan judul buku :

"Putraku buah hatiku"
Dia duduk lesu n mulai membaca tulisan ibux itu.

Diawali hari n tgl lahir dia. "Aku melahirkan putra, biar terasa sakit n mandi darah, aku bangga, bisa punya anak"

Ya, aku bangga bisa berjuang tanpa suami yg mendahuluiku. Aku rawat dgn cinta, aku besarkan dgn kasih, aku sekolahkn dgn airmata, aku hidupi dia dgn cucuran keringat.

Kuingat, ketika kubawa ke klinik utk imunisasi, diatas angkot, dia nangis lalu kubuka kancing blus n susui dia, aku tak malu, bahkan tiba² dia kencingi aku, biarlah. Tiba² dia batuk kecil, muntah n basahi rokku. Hari itu terasa indah bagiku, biarpun aku basah oleh kencing n muntahanx, aku tersenyum bangga sekali.

Kejadian itu terulang beberapa X. Aku tak peduli apa kata org diatas angkot, asalkan putraku bertumbuh sehat. Itu yg utama bagiku.

Sambil baca, airmatax mulai meleleh turun, hati terasa perih, dada sesak.
Tiba² dia berteriak keras, meraung "Ibuuu...ibuu.."!! Sambil berdiri, setengah berlari ke garasi.

Istrix kaget liat ulah suamix n bertanya : "Kenapa pak, ada apa?"

Terisak dia jawab : "Aku hrs bawa kembali ibuku".

Tiba² telpon berdering, diterima istrix, lalu.... :

"Mohon ibu n pak segra dtg di panti sekarang ya"

Mereka buru² ke panti, saat masuk, nampak tubuh tua ibu sedang diperiksa dokter.

Si suami bertriak histeris sambil menangis "Ibuuu"! Ibux lemah berusaha memeluk kepala anakx seraya berbisik sendu "Anakku...ibu bangga punya kamu, seluruh cinta kasih hanya buat kamu, nak...Maafkan ibu, i...ibu sa...yang..padamu!" Sang ibupun meninggal.

Anakx meraung keras menangis "Ibuu....ibuu.... aku minta ampun buu.... aku durhaka sama ibuu.. ampun...ampuni aku bu. Ibuu...jangan tinggalkan aku bu. Anak macam apa aku ini, ampuni aku buu.."

Sobatq, masih adakah ibu n ayah disisimu? Syukur ! Nilai apa yg terbersit dari kisah ini? Ingatlah Sobat :

> kegeraman mengantar kita "memeluk dosa"

> tindakan bodoh, membuat kita "merangkul durhaka"

> sikap ego, mendorong kita "mendekap nista"

> sesal yg terlambat, menarik kita "bergelimang keperihan"

Berpikirlah arif, bertindak dgn bijak, berucaplah dengan penuh kasih sayang, hiduplah penuh syukur.

www.gratistelpon.com/joko76

Share:

ORANG TUA PINTU SURGA PALING TENGAH

*ORANG TUA PINTU SURGA PALING TENGAH*

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Dari Abu Darda Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (HR. Ahmad 28276, Turmudzi 2022, Ibn Majah 3794, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Keterangan Hadis

Dalam Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Sunan Turmudzi disebutkan keterangan al-Baidhawi,

وقال القاضي البيضاوي؛ والمعنى أن أحسن ما يتوسل به إلى دخول الجنة ويتوسل به إلى وصول درجتها العالية مطاوعة الوالد ومراعاة جانبه , وقال غيره : إن للجنة أبوابا وأحسنها دخولا أوسطها , وإن سبب دخول ذلك الباب الأوسط هو محافظة حقوق الوالد

Al-Qadhi Baidhawi mengatakan, “Makna hadis, bahwa cara terbaik untuk masuk surga, dan sarana untuk mendapatkan derajat yang tinggi di surga adalah mentaati orang tua dan berusaha mendampinginya.

Ada juga ulama yang mengatakan, ‘Di surga ada banyak pintu.

Yang paling nnyaman dimasuki adalah yang paling tengah. Dan sebab untuk bisa masuk surga melalui pintu itu adalah menjaga hak orang tua.’ (Tuhfatul Ahwadzi, 6/21).

Baca selengkapnya

Read more https://konsultasisyariah.com/24268-orang-tua-pintu-surga-paling-tengah.html

Share:

PERBEDAAN ORANG BAIK DENGAN PENYERU KEBAIKAN

**

Sekedar jadi ORANG BAIK pasti bisa BANYAK TEMAN & bagi PENYERU KEBAIKAN malah bisa jadi BANYAK MUSUHnya.

Apa bedanya Orang Baik (Shalih) dan Penyeru Kebaikan (Mushlih)..?

Orang Baik (Shalih), melakukan kebaikan untuk dirinya,
sedangkan Penyeru Kebaikan (Muslih) mengerjakan kebaikan utk dirinya dan orang lain..

Orang Baik dicintai manusia...
Penyeru Kebaikan dimusuhi manusia..
لماذا !!!؟؟
Kok gitu...?!?!

Rosululloh Saw sebelum diutus, beliau dicintai oleh kaumnya karena beliau adalah Orang Baik...

Namun ketika ALLAH TA'ALA mengutusnya sebagai Penyeru Kebaikan, kaumnya langsung memusuhinya dengan menggelarinya : Tukang Sihir, Pendusta, Gila..

Apa sebabnya..?
Karena Penyeru Kebaikan 'menyikat' batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan..

Itulah sebabnya kenapa Luqman menasihati anaknya agar BERSABAR ketika melakukan perbaikan, karena dia pasti akan menghadapi permusuhan...!

Hai anakku, tegakkan sholat, perintahkan kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabarlah atas apa yg menimpamu.

Berkata ahli ilmu:
Penyeru Kebaikan lebih dicintai ALLAH TA'ALA daripada ribuan Orang Baik...

Karena melalui Penyeru Kebaikan itulah, ALLAH AZZA WA-JALLA jaga umat ini...
Sedang Orang Baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri !

ALLAH Subhanahu wa ta'alaa berfirman :

"Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan 1 negeri dengan dzalim padahal penduduknya adalah Penyeru Kebaikan (Muslih).
ALLAH TA'ALA tidak berfirman dg memakai istilah Orang Baik (Sholih).
_*Maka jadilah PENYERU KEBAIKAN (MUSLIH), jangan merasa puas hanya sebagai ORANG BAIK (SHOLIH)...*_
Semoga Allah berikan kita kemampuan utk berkata TIDAK pada kemungkaran.

��QN��

Share:

Fasting

*Are you FASTING???*

A few young men saw an old man eating a sandwich in a secluded place.
They went near him and asked, "Mr, why aren't you fasting?"

The old man replied, "What do you mean? *I am fasting! I just eat and drink water."*

The young lads laughed and asked, "How can you fast in such a manner?"

The old man replied, *"Its simple, I don't lie, I don't abuse or slander anyone, I don't backbite, I don't hurt anybody, I am not jealous of anyone, I protect my eyes from watching haraam, I do my duties and fulfill my responsibilities honestly and I refrain from eating haraam. But because of a disease, I'm not allowed to refrain from food and water."*

The old man then asked the youth, "Are you fasting too?"

*With heads hanging down, one of them replied in a barely audible voice, "No, we just don't eat food."*

Share:

Haruskah kita bermazhab?


Ini menjadi pertanyaan orang yang baru menapaki dunia fikih. Sayangnya, mereka yang bertanya semacam ini, malas belajar agama.

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Saya mau bertanya, haruskah kita fokus ke satu madzhab?

Dari: Fajar

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah, was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,

Pertama, Pertanyaan semacam ini bagi sebagian kalangan mungkin layak dikatakan abang-abang lambe. Betapa tidak, banyak diantara kita yang mempertanyakan hal ini, namun sejatinya belum bisa memahami konsekuensinya. Kebanyakan orang yang kebingungan harus memilih madzhab tertentu, dia sendiri sebenarnya tidak memahami isi madzhab-madzhab itu.

Sebagai contoh misalnya, ada orang yang menyarankan agar kita memilih madzhab Syafii. Dan kita pun yakin bahwa itu lebih dekat dengan kebenaran. Kemudian, setelah kita merasa mantap untuk memilih madzhab Syafii, apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Diam saja, tanya ustadz, baca buku, atau bagaimana?

Kita sangat yakin, kebanyakan orang yang menghadapi semacam ini, dia hanya akan mengambil sikap diam saja. Karena dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan ketika ingin mengikuti madzhab Syafii. Anehnya, dia sendiri enggan untuk kemudian mempelajari buku-buku dan karya ulama bermadzhab Syafii. Ujung-ujungnya, dia hanya bisa bertanya kepada ustadz atau kiyai yang dia yakini bermadzhab Syafii. Anda tahu bagaimana hasilnya?

Ya, sejatinya orang ini tidak menganut madzhab Imam Syafii, tapi menganut madzhab sang kiyai atau ustadznya. Dus.., omong kosong ketika dia mengaku-aku dan merasa bangga dengan madzhab Syafii, sementara dia sendiri tidak mengenal madzhab Imam Syafii. Karena itu, Anda tidak perlu heran, ketika banyak pendapat masyarakat syafiiyah di tempat kita, yang justru bertentangan dengan pendapat imam madzhabnya. Salah satu contohnya adalah dalam masalah peringatan kematian. Mereka yang membela dan melestarikannya, semuanya mengaku bermadzhab Syafii. Padahal Imam Syafii dan ulama madzhab syafiiyah sendiri menentangnya.

Anda bisa baca keterangan ini lebih panjang di: Menghadiahkan Pahala Sedekah untuk Mayit

Karena itu, yang lebih penting bukan Anda mengaku bermadzhab apa. Tapi yang lebih penting adalah belajar dan belajar. Memahami agama ini dari sumber-sumbernya. Dengan demikian, Anda akan bisa menimbang, manakah diantara semua pendapat itu yang lebih mendekati kebenaran. Dengan demikian Anda bisa mengambil sikap dengan penuh keyakinan, karena Anda tahu dasarnya. Dari pada menjadi orang awam, yang kebingungan dan terombang-ambing dalam lautan perselisihan.

Kedua, makna kata madzhab

Agar kita bisa memahami lebih sempurna, terlebih dahulu kita pahami makna kata madzhab. Secara bahasa, madzhab artinya tujuan keberangkatan. Kemudian kata ini mengalami perubahan, sehingga digunakan untuk menyebut kesimpulan hukum yang menjadi tujuan akhir pembahasan, sebagaimana keterangan al-Munawi dalam at-Tawqif.

Ad-Dasuqi dalam hasyiahnya untuk asy-Syarhul Kabir mengatakan,

مَذْهَبَ مَالِكٍ مَثَلًا عِبَارَةٌ عَمَّا ذَهَبَ إلَيْهِ مِنْ الْأَحْكَامِ الِاجْتِهَادِيَّةِ

Madzhab Malik berarti ungkapan untuk menyebut semua hukum hasil ijtihad yang menjadi pendapat Imam Malik (Hasyiyah ad-Dasuqi ‘ala asy-Syarh al-Kabir, 1:49).

Atau denagn kalimat yang lebih ringkas, madzhab = pendapat. Bermadzhab, berarti mengikuti pendapat. Bermadzhab Syafii, artinya mengikuti pendapat Imam asy-Syafii, dst.

Dengan demikian, seorang mungkin saja mengikuti banyak madzhab, dalam berbagai ibadahnya. Bahkan dalam satu kali shalat yang dia lakukan. Bisa saja orang shalat dengan cara takbir menurut madzhab Hanafi, sedekap menurut madzhab Maliki, rukuk dengan madzhab Syafii, dan i’tidal dengan madzhab Hambali. Kita tentu yakin, ada salah satu dari sekian tata cara dari masing-masing madzhab tersebut yang lebih mendekati kebenaran. Sehingga kita bisa mengambil kesimpulan, tidak mungkin ada satu madzhab yang pendapatnya benar secara mutlak.

Ketiga, kita sepakat bahwa Imam yang empat, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris asy-Syafii, dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah, mereka semua adalah imam dan panutan bagi kaum muslimin generasi setelahnya. Allah jadikan pendapat mereka diterima di hati kaum muslimin, dari generasi ke generasi.

Namun kita juga sepakat bahwa ijtihad tidak hanya terbatas pada empat ulama ini. Karena Islam tidak mungkin hanya berkutat pada pendapat empat imam ini. Masih banyak ulama lain yang sekelas dengan mereka, semacam ats-Tsauri, al-Auza’I, Ibnul Mubarak, Ishaq bin Rahuyah, Ibnu Uyainah, Ibnu Mahdi, Yahya bin Qathan, dll.

Untuk itulah, para imam tersebut tidak pernah berharap agar madzhabnya disikapi sebagaimana syariah yang maksum dari kesalahan. Demikian pula, mereka sama sekali tidak bermaksud untuk memaksa orang lain agar mengikuti pendapatnya. Bahkan mereka menolak ketika ada orang lain yang mengambil pendapatnya, tanpa mengetahui dalil yang menjadi dasar mereka.

Berikut diantara wasiat mereka,

Imam Abu Hanifah mengatakan,

إذا قلت قولا يخالف كتاب الله تعالى وخبر الرسول صلى الله عليه و سلم فاتركوا قولي

“Jika saya menyampaikan pendapat yang bertentangan denagn Al-Quran dan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah pendapatku.” (Iqadzul Himam al-Fallani, hlm. 50, dari Shifat Shalat Nabi, hlm. 48).

Imam Malik pernah berpesan:

ليس أحد بعد النبي صلى الله عليه و سلم إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه و سلم

Siapapun setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pendapatnya layak diambil atau ditolak. Kecuali keterangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (al-Jami’ Ibnu Abdil Bar, 2:91, dari Shifat Shalat Nabi, hlm. 49).

Imam asy-Syafii mangatakan,

كل ما قلت فكان عن النبي صلى الله عليه و سلم خلاف قولي مما يصح فحديث النبي أولى فلا تقلدوني

Semua pendapatku, namun keterangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertentangan dengan pendapatku maka hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih layak diikuti dan janganlah taqlid kepadaku. (Riwayat Ibnu Asakir dengan sanad shahih, dari Shifat Shalat Nabi, hlm. 52)

Imam Ahmad berpesan,

لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري وخذ من حيث أخذوا

“Janganlah kalian taqlid kepada aku, jangan pula taqlid kepada Malik, As-Syafii, Al-Auzai, At-Tsauri. Ambillah dari mana mereka mengambil.” (I’lam al-Muwaqi’in, 2:201).

Kita bisa memastikan, bagaimana semangat mereka dalam mengajarkan kebaikan kepada umat. Sama sekali bukan dalam rangka membangun kelompok baru, bukan pula menciptakan perbedaan di kalangan umat.

Keempat, mengapa hanya 4 ini yang terkenal?

Diantara balasan yang kebaikan yang Allah berikan kepada mereka, atas jasa besar mereka bagi kaum muslimin, Allah abadikan karya mereka dan pendapat mereka melebihi ulama lainnya. Sebagaimana yang dinyatakan Imam Malik,

ما كان لله بقي

“Sesuatu yang murni untuk Allah maka akan lebih langgeng”

Allah ciptakan para murid yang menimba ilmu dari mereka, mengabadikan pendapat dan perjalanan hidup mereka. Para murid itu mencatat pendapat mereka, penjelasan mereka, tanya jawab bersama mereka, termasuk prinsip mereka dalam berijtihad. Sehingga sejarah kehidupan, ideologi, dan pemahaman mereka dikenang oleh masyarakat generasi setelahnya.

Dalam perjalanannya, para ulama generasi selanjutnya, berusaha meniru metodologi mereka dalam berijtihad dan mengambil kesimpulan hukum. Mereka lebih mengikuti pada prinsip para imam dalam menyimpulkan pendapat, ketimbang mengikuti pendapat sang imam. Sehingga terbentuklah metodologi menggali kesimpulan dalil yang membedakan mereka dengan madzhab yang lainnya. Mengingat 4 orang ini yang lebih banyak pengikutnya, jadilah madzhab 4 imam ini lebih dikenal dibandingkan ulama lain yang sezaman dengan mereka.

Kelima, haruskah kita taqlid kepada madzhab?

Ketika menjelaskan tentang hukum taqlid madzhab, Dr. Abdullah al-Judai mengatakan,

أنَّ النَّاسَ صنفَانِ، عالمٌ مجتهدٌ، وَعَامِيٌّ مقلِّدٌ، فأمَّا المجتهدُ فقدْ امتنعَ عليهِ التَّقليدُ ما دامَ قادرًا على الاجتهادِ، وأمَّا المقلَّدُ فإنَّه مأمورٌ بسؤالِ من يقدرُ على سُؤالهِ من أهلِ العلمِ، ولا يتقيَّدُ بمذهبٍ من المذاهبِ الأربعَةِ، وإنَّما هو كما يقولُ بعضُ العلماءِ: (مذهبُهُ مَذهبُ من يسْتَفتِيهِ) ، وعلَى هذا أكثرُ أهلِ العلمِ.

Sesungguhnya manusia terbagi menjadi dua golongan: Alim mujtahid dan Awam yang taqlid. Seorang mujtahid, dia tidak diperbolehkan untuk taqlid selama dia masih mampu untuk berijtihad. Sementara orang yang taqlid, dia diperintahkan untuk bertanya kepada ulama yang mampu menjawab pertanyaannya. Dan tidak harus terikat dengan madzhab tertentu dari empat madzhab di atas. Statusnya sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama: “Madzhabnya orang awam sama denagn madzhabnya orang yang dia mintai fatwa.” Inilah yang menjadi pegangan para ulama.

Kemudian beliau melanjutkan,

لكنَّ التَّتلمُذَ لمن يقصِدُ تحصيلَ آلَةِ الاجتهادِ على مذهبِ من هذهِ المذاهبِ لأجلِ ما وقعَ من العِنايَةِ بها مشروعٌ صحيحٌ؛ نظرًا لما يُحقِّقُ من المصالحِ العظيمَةِ في مراتِبِ العلمِ، ولا ضرُورَةَ لتسميَّتِهِ تقليدًا

Namun, orang yang berusaha menggali untuk mendapatkan metodologi berijtihad menurut salah satu madzhab dalam rangka memberikan perhatian kepadanya, hukumnya disyariatkan dan dibenarkan. Mengingat terwujudnya kemaslahatan yang besar dengan adanya penerapan tingkatan ilmu. Dan tidak masalah jika bentuk semacam ini disebut taqlid.

فإنْ كانَ في مراحِل العلمِ فلهُ بعضُ الحالِ يشبَهُ العامِّيَّ فيأخُذُ حُكمَهُ المذكُورَ آنفًا، ولهُ حالٌ يشبهُ المُجتهِدَ فيأخُذُ حُكمَهُ كذلكَ.

Kaitannya dengan tingkatan ilmu, ulama yang mengkaji madzhab terkadang pada satu keadaan sama dengan orang awam. Sehingga berlaku hukum baginya sebagaimana yang telah disebutkan. Dan terkadang dia berada pada keadaan seperti layaknya mujtahid, sehingga berlaku hukum mujtahid baginya. (Taisir Ilmi Ushul Fiqh, 394 – 395).

Dari keterangan beliau, kita bisa mengambil kesimpulan

a. Manusia bertingkat-tingkat keilmuannya, ada yang awam, ada yang secara khusus belajar agama, ada yang ulama mujtahid, dan ada yang menjadi mujtahid mutlak.

b. Taqlid yang dilakukan seseorang, sesuai dengan tingkatan ilmunya. Taqlid yang dilakukan orang awam, jelas berbeda dengan taqlid yang dilakukan mereka yang sedang belajar. Demikian pula taqlidnya seorang penuntut ilmu, tentu berbeda dengan taqlidnya ulama di atasnya, dst.

c. Dari tingkatan keilmuan itu pula, ada orang yang taqlidnya mentahan. Dia hanya menerima hasil akhir, tanpa tahu dalilnya sepeserpun. Itulah model taqlid orang awam. Kemudian ada yang taqlid hanya pada bagian metodologi berfikir dan berijtihad, sehingga ketika mendapatkan kasus tertentu, dia bisa gunakan metodologi itu untuk mendapatkan jawabannya. Itulah tingkatan taqlid yang dilakukan ulama yang menisbahkan dirinya kepada madzhab tertentu.

Kemudian, tidak lupa Dr. Abdullah al-Judai memberikan persyaratan ketika seseorang hendak taqlid kepada madzhab tertentu,

أمَّا الانتِسابُ بسببِ التَّلقِّي إلى واحدٍ من هذهِ المذاهبِ، فشرْطُ جوازِهِ أنْ لا يقترِنَ بعصبيَّةٍ

“Adapun menisbahkan diri pada madzhab tertentu, disebabkan dia mengambil banyak ilmu dari salah satu madzhab, hukumnya boleh dengan syarat tidak diiringi dengan ta’asub (taqlid buta).” (Taisir Ilmi Ushul Fiqh, hlm. 395).

Yang dimaksud taqlid buta di sini adalah memegangi semua pendapat madzhab tersebut, tanpa peduli benar dan salahnya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.Com).

Ammi Nur Baits
http://yufid.org
Ustadz Ammi Nur Baits Beliau adalah Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh. Saat ini, beliau aktif sebagai Dewan Pembina website PengusahaMuslim.com, KonsultasiSyariah.com, dan Yufid.TV,
Read more https://konsultasisyariah.com/15778-haruskah-kita-bermadzhab.html

[Copas&Posted By Fp Ittiba' Rasulullah ].

Share:

TARAWIH

JANGAN TINGGALKAN IMAM SEBELUM SELESAI TARAWIH DAN WITIR

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
�� “Sesungguhnya barangsiapa yang sholat (tarawih) bersama imam sampai imam selesai sholat maka *dituliskan baginya pahala sholat semalam penuh.”* [HR. At-Tirmidzi dari Abu Dzar radhiyallaahu ’anhu, Al-Irwa’: 447]

Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan pahala sholat semalam penuh harus sholat terus bersama imam sampai imam selesai.
��
Maka witir lah bersama imam. *Jika ingin WITIR di akhir malam, maka solusinya:* tetap ikut solat witir imam, tapi tidak dengan niat witir, lalu jika imam salam maka tidak ikut dalam tapi nambah 1 rekaat.
Anamuslim.org

Share:

PUASA

# MARHABAN YAA ROMADHON.. #

Nabi saw bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْعُ وَالْعَطْشُ

BETAPA BANYAK ORANG YANG BERPUASA, TETAPI IA TIDAK MENDAPATKAN APA APA DARI PUASANYA, KECUALI LAPAR DAN DAHAGA.

Dalam hadits di atas Rosululloh Saw, mewanti wanti kepada ummatnya, agar puasanya tidak sia sia karena tidak biasa mengendalikan anggota tubuhnya dari perbuatan MAKSIAT.
Imam Al Ghozali menerangkan dalam kitab bidayahnya, bahwa puasa yang sempurna adalah DENGAN MENCEGAH ANGGOTA TUBUH DARI PERBUATAN DOSA YANG DI BENCI OLEH ALLOH SWT.
Maka puasa yang sempurna di lakukan dengan 4 perkara:
1. Patutlah engkau menjaga mata dari pandangan kepada yang di HARAMKAN. Dan kepada sesuatu yang melalaikan HATI dari dzikrulloh.
NABI SAW BERSABDA:

النظر سهم من سهام إبليس لعنه الله فمن تركه خوفا من الله عز وجل اتاه الله إيمانا يجد حلاوته فى قلبى.

" pandangan terlarang adalah salah satu panah beracun dari iblis yang di laknat oleh Alloh. Maka siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Alloh SWT, iapun di beri Alloh IMAN yang di rasakan kemanisannya di dalam hatinya.

2. MENJAGA LISAN DARI PERKATAAN YANG TIDAK BERGUNA.
Nabi saw bersabda:
من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة أن يدع طعامه وشرابه
Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan pengamalannya, maka Alloh tidak mempunyai keperluan agar ia meninggalkan makan dan minumnya.

3. MENJAGA TELINGA DARI MENDENGARKAN APA YANG DI HARAMKAN ALLOH SWT.
Nabi saw bersabda:
"PENGGUNJING DAN PENDENGARAN SAMA SAMA BERDOSA"
demikian juga engkau menjaga semua anggota tubuh dari perbuatan tercela, sebagaimana engkau mencegah perut dan kemaluan dari melampiaskan SYAHWATNYA.
Disebutkan dalam kabar yang di riwayatkan oleh JABIR dari ANAS dari Rosululloh Saw, bahwa beliau bersabda:
خمس يفطرن الصائم الكذب والغيبة والنميمة واليمين الكاذبة والنظر بشهوة.
Lima perkara yang membatalkan puasa(pahala puasa), yaitu:
1. Berkata dusta
2. Ghibah ( membicarakan orang lain/ rasan rasan kata bahasa jawa)
3. Adu domba
4. Sumpah palsu
5  pandangan dengan syahwat.

(Perkataan MEMBATALKAN PUASA dalam hadits di atas, menurut madzhab Sayyidah Aisyah dan Imam Ahmad adalah batal seluruhnya. Menurut madzhab Asy Syafi'i dan para sahabatnya, hanya membatalkan pahala puasa, bukan puasa itu sendiri.
Nabi saw bersabda:

انما الصوم الجنة فإذا كان أحدكم صائما فلا يرفث ولايفسق ولاتجهل. فإن امرؤ قاتله او شاتمه فليقل انى صائم
Sesungguhnya puasa itu perisai, maka apabila salah seorang diantara kamu berpuasa, janganlah berkata keji dan jangan melakukan perbuatan perbuatan terlarang( FASIK), dan jangan pula berlagak bodoh(sudah tau maksiat membatalkan pahala puasa masih saja di kerjakan).
Jika salah seorang di  antara kamu mengajak berkelahi atau memaki, maka hendaklah ia mengatakan "AKU BERPUASA".

Yakni katakan dalam hati bilamana puasa sunnah dan kata dengan lisan dan hati bilamana puasa ROMADHON.
Demikian di katakan oleh Al Azizi.
Kemudian BERIJTIHADlah untuk berbuka dengan makanan halal. Tidak ada artinya berpuasa, yakni menahan diri dari makanan halal, bila ia berbuka dengan makanan haram.
Perbuatan itu seperti orang yang membangun istana dan merobohkan negara.

4. JANGANLAH MEMPERBANYAK MAKANAN SEHINGGA ENGKAU MENAMBAH MAKANAN SELAIN WAKTU PUASA.
Maka tiada bedanya bagimu antara berbuka dan berpuasa bila engkau penuhi makanan yang biasa engkau makan di waktu siang, engkau makan di waktu malam sekaligus.

Sesungguhnya yang di maksud puasa adalah MEMATAHKAN SYAHWATMU DAN MELEMAHKAN KEKUATANMU UNTUK MELAKUKAN MAKSIAT SUPAYA ENGKAU MENJADI KUAT UNTUK BERTAQWA.
Apabila engkau makan di waktu petang untuk menebus ketinggalan makananmu dari pagi hingga malam, maka TIADA FAIDAH DALAM PUASAMU.

Para ulama berkata:
Barang siapa yang sempurna laparnya di bulan ROMADHON, iapun terlindungi dari setan hingga ROMADHON berikutnya, karena puasa adalah perisai pada tubuh orang yang berpuasa, selama tidak di rusak dengan prilaku KEMAKSIATAN apapun, apabila rusak, maka masukklah setan dari kerusakan itu.

MUDAH MUDAHAN KITA SEMUA BISA MENYEMPURNAKAN PUASA ROMADHON YANG AKAN DATANG...

karena Nabi saw bersabda:
قال الله تعالى كل حسنة بعشر أمثالها الى سبع مائة ضعف إلا الصوم فإنه لى وانا اجزى به

ALLOH TA'ALA BERKALAM:
SETIAP KEBAIKAN MENDAPATKAN PAHALA SEPULUH KALI LIPAT HINGGA 700 KALI, KECUALI PUASA, KARENA PUASA ADALAH UNTUK-KU DAN AKU YANG MEMBALASNYA.
(Al Hadits Qudsi)

WALLAHU A'LAM

Share:

DAHSYAT NYA DOA SEBELUM BERBUKA PUASA

Oleh : Ustadz Alwi bin Ali Alhabsyi

*Ada suatu waktu yang mustajab untuk berdoa, dimana doa tersebut tidak akan ditolak oleh Allah SWT, yaitu berdoa saat "menjelang berbuka puasa" dan "menjelang makan sahur"*, namun sayang banyak kaum muslimin tidak mengetahuinya.

Di Mekkah & Madinah, satu jam sebelum adzan maghrib orang-orang sudah menengadahkan tangan ke langit berdoa untuk kemudahan dari segala hajat, baik hajat dunia maupun akhirat, mereka berdoa dengan syahdu sepenuh keyakinan, sampai-sampai air mata mereka mengalir deras.

Ya, berdoa meminta kpd Allah Yang Maha Kaya.

Kesalahan yang dilakukan kaum muslimin kita di sini (Indonesia) yaitu dengan *menyia-nyiakan waktu yang sangat mustajab ini dengan cara ngabuburit* menjelang adzan maghrib!!! Kemudian berkumpul menghadapi hidangan berbuka dan mereka sudah merasa cukup dengan hanya membaca, "Allahuma lakasumtu... atau dzahaba zhoma'u...", padahal hanya mencakup maknanya berupa laporan dan ucapan syukur.

*Setelah kita memahaminya, hendaknya minimal 10 ~ 15 menit sebelum adzan maghrib (sudah dalam keadaan berwudhu) kemudian berdoa meminta apa saja* (adabnya dengan didahului puji-pujian kepada Allah dan bershalawat atas Nabi Muhammad SAW, karena Allah SWT menggaransi bahwa do'a-do'a tersebut akan dikabulkan..." Allah sesuai prasangka hamba kepada-Nya".

Manfaatkanlah waktumu sobat, bukan hanya demi santapan atau berburu makanan saat jelang buka.

Berdo'alah untuk diri kita, keluarga kita, orangtua kita, sahabat kita, negeri kita.

*Musuh-musuh Islam tahu betapa hebat ummat Muhammad SAW bila mereka berdo'a kepada Rabbnya disaat menjelang berbuka.*

Karena itu, mereka buat tipu daya untuk melalaikannya dengan program-program TV dan media lainnya di waktu-waktu yang mustajab yaitu menjelang berbuka dan menjelang sahur (2/3 malam).

Sehingga ummat ini, mereka makan-minum, berpuasa, namun tak sempat untuk berdoa.

Semoga nasehat yang singkat ini bermanfaat bagi umat yang belum mengetahuinya.

أمـــــين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Share:

BOLEHKAH MENAMBAH RAKA’AT SHALAT TARAWIH LEBIH DARI 11 RAKA'AT?

Bismillaahirrahmaanirrahiim

���� *MENGHIDUPKAN MALAM RAMADHAN DENGAN SHOLAT TARAWIH* ����

��Mayoritas ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan  bahwa boleh menambah raka’at dari yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

��Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.”
��(At Tamhid, 21/70)

��Yang membenarkan pendapat ini adalah dalil-dalil berikut :

✍Pertama, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.”
�� (HR. Bukhari dan Muslim)

✍Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” 
��(HR. Muslim no. 489)

✍Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Sesungguhnya engkau tidaklah melakukan sekali sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.”
�� (HR. Muslim no. 488)

�� *SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1438 H* ��

Share:

Mahfudzot

*_Sekedar mengingat hafalan yg musnah ditelan zaman._*

1. مَنْ جَدَّ وَجَدَ
2. مَنْ سَارَ عَلَى الدَّرْبِ وَصَلَ
3. مَن صَبَرَ ظَفِرَ
4. مَنْ قَلَّ صِدْقُهُ قَلَّ صَدِيْقُهُ
5. جَالِسْ أَهْلَ الصِدْقِ وَالوَفَاءِ
6. مَوَدَّةُ الصَّدِيْقِ تَظْهَرُ وَقْتَ الضِّيْقِ
7. وَمَااللَّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَّعَبِ
8. الصَّبْرُ يُعِيْنُ عَلَى كُلِّ عَمَلٍ
9. جَرِّبْ وَلاَحِظْ تَكُنْ عَارِفًا
10. اطْلُبِ العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلىَ اللَّحْدِ
11. بَيْضَةُ اليَوْمِ خَيْرٌ مِنْ دَجَاجَةِ الغَدِ
12. الوَقْتُ أَثْمَنُ مِنَ الذَّهَبِ
13. العَقْلُ السَّلِيْمُ فىِ الجِسْمِ السَّلِيْمِ
14. خَيْرُ جَلِيْسٍ فىِ الزَّمَانِ كِتَابٌ
15. مَنْ يَزْرَعْ يَحْصُدْ
16. خَيْرُ الأَصْحَابِ مَنْ يَدُلُّكَ عَلَى الخَيْرِ
17. لَوْلاَ العِلْمُ لَكَانَ النَاسُ كَالبَهَائِمِ   
18. العِلْمُ فىِ الصِغَرِ كَالنَّقْشِ عَلَى الحَجَرِ
19. لَنْ تَرْجِعَ الأَيَّامُ الَّتِى مَضَتْ
20. تَعَلَّمَنْ صَغِيْرًا وَاعْمَلْ بِهِ كَبِيْرًا
21. العِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ
22. الاِتِّحَادُ أَسَاسُ النَّجَاحِ
23. لَا تَحْتَقِرْ مِسْكِيْنًا وَكُنْ لَهُ مُعِيْنًا
24. الشَرَفُ بِالأَدَبِ لَابِالنَّسَبِ
25. سَلَامَةُ الإِنْسَانِ فِى حِفْظِ اللِّسَانِ
26. آدَابُ المَرْءِ خَيْرٌ مِنْ ذَهَبِهِ
27. سُوْءُ الخُلُقِ يُعْدِى
28. آفَةُ العِلْمِ النِّسْيَانُ
29. إِذَا صَدَقَ العَزْمُ وَضَحَ السَّبِيْلُ
30. لَا تَحْتَقِرْ مَنْ دُوْنَكَ فَلِكُلِّ شَىءٍ مَزِيَّةٌ
31.أَصْلِحْ نَفْسَكَ يَصْلُحْ لَكَ النَّاسُ
32. فَكِّرْ قَبْلَ أَنْ تَعْزِمَ
33. مَنْ عَرَفَ بُعْدَ السَّفَرِ اِسْتَعَدَّ
34. مَنْ حَفَرَ حُفْرَةً وَقَعَ فِيْهَا
35. عَدُوٌّ عَاقِلٌ خَيْرٌ مِنْ صَدِيْقٍ جَاهِلٍ
36. مَنْ كَثُرَ إِحْسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ
37. اِجْهَدْ وَلَا تَكْسَلْ وَلَا تَكُ غَافِلًا  # فَنَدَامَةُ العُقْبَى لِمَنْ يَتَكَاسَلُ
38. لَا تُؤَخِّرْ عَمَلَكَ إِلَى الغَدِ مَاتَقْدِرُ أَنْ تَعْمَلَهُ اليَوْمَ
39. اُتْرُكِ الشَّرَّ يَتْرُكْكَ
40. خَيْرُ النَّاسِ اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَاَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
41. فِى التَّأَنِّى السَّلَامَةُ وَفِى العَجَلَةِ النَّدَامَةُ
42. ثَمْرَةُ التَفْرِيْطِ النَّدَامَةُ وَثَمْرَةُ الحَزْمِ السَلاَمَةُ
43. الرِّفْقُ بِالضَّعِيْفِ مِنْ خُلُقِ الشَّرِيْفِ
44. فَجَزَاءُ سَيَّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا
45. تَرْكُ الجَوَابِ عَلَى الجَاهِلَ جَوَابٌ
46. مَنْ عَذُبَ لِسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ
47. إِذَا تَمَّ العَقْلُ قَلَّ الْكَلَامُ
48. مَنْ طَلَبَ أَخًا بِلَا عَيْبٍ بَقِيَ بِلَا أَخٍ
49. قُلِ الحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا
50. خَيْرُ مَالِكَ مَا نَفَعَكَ
51. خَيْرُ الأُمُوْرِ أَوْسَطُهَا
52. لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ وَلِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ
53ِْ. إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
54. لَيْسَ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ فَقِيْرًا بَلْ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ بَخِيْلًا
55. لَيْسَ اليَتِيْمُ الَّذِى قَدْ مَاتَ وَالِدُهُ بَلْ اليَتِيْمُ يَتِيْمُ العِلْمِ وَالأَدَبِ
56. لِكُلِّ عَمَلٍ ثَوَابٌ وَلِكُلِّ كَلَامٍ جَوَابٌ
57. وَعَامِلِ النَّاسَ كَمَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوْكَ   
58ِ. هَلَكَ امْرُؤٌ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَهُ
59. رَأْسُ الذُّنُوْبِ الكَذِبُ
60. مَنْ ظَلَمَ ظُلِمَ
61. لَيْسَ الجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنَا إِنَّ الجَمَالَ جَمَالُ العِلْمِ وَالأَدَبِ
62. لَا تَكُنْ رَطْبًا فَتُعْصَرَ وَلَا يَابِسًا فَتُكَسَّرَ
63. مَنْ اَعَانَكَ عَلَى الشَّرِّ ظَلَمَكَ
64. العَمَلُ يَجْعَلُ الصَّعْبَ سَهْلًا
65. أَخِىْ لَنْ تَنَالُ العِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ  أُسْتَاذٍ وَ طُوْلُ زَمَانٍ
66. مَنْ تَأَنَّى نَالَ مَا تَمَنَّى
67. اُطْلُبِ العِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ
68. النَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ
69. إِذَا كَثُرَ الـمَطْلُوْبُ قَلَّ الـمُسَاعِدُ
70. لَا خَيْرَ فِى لَذَّةٍ تَعْقِبُ نَدَمًا
71. تَنْظِيْمُ العَمَلِ يُوَفِّرُ نِصْفَ الوَقْتِ
72. رُبَّ أَخٍ لَمْ تَلِدْهُ وَالِدَةٌ
73. دَاوُوا الغَضَبَ بِالصُّمْتِ
74َِ. الكَلَامُ يَنْفُذُ مَا لَا تَنْفُذُهُ الإِبَرُ
75. لَيْسَ كُلُّ مَا يَلْمَعُ ذَهَبًا
76. سِيْرَةُ الـمَرْءِ تُنْبِئُ عَنْ سَرِيْرَتِهِ
77. قِيْمَةُ الـمَرْءِ بِقَدْرِ مَا يُحْسِنُهُ
78. صَدِيْقُكَ مَنْ اَبْكَاكَ لَا مَنْ أَضْحَكَكَ
79. عَثْرَةُ القَدَمِ أَسْلَمُ مِنْ عَثْرَةِ اللِّسَانِ
80َُ. خَيْرُ الْكَلَامِ مَا قَلَّ وَدَلَّ
81. كُلُّ شَيْءٍ إِذَا كَثُرَ رَخُصَ إِلَّا الأَدَبُ
82. أَوَّلُ الغَضَبِ جُنُوْنٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ
83. العَبْدُ يُضْرَبُ بِالعَصَا وَالحُرُّ يَكْفِيْهِ بِالإِشَارَةِ
84. اُنْظُرْ مَا قَالَ وَلَا تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
85. الحَسُوْدُ لَا يَسُوْدُ
86. الأَعْمَالُ بِخَوَاتِمِهَا

1. Siapa bersungguh-sungguh dia berhasil.
2. Siapa berjalan pada relnya akan sampai.
3. Siapa bersabar berhasil.
4. Siapa sedikit kejujurannya, sedikit temannya.
5. Bergaullah dengan orang jujur dan menepati janji.
6. Kasih sayang teman tampak pada waktu kesempitan.
7. Tak ada kenikmatan kecuali setelah susah payah.
8. Kesabaran membantu atas setiap pekerjaan.
9. Coba dan perhatikan, kau akan jadi tahu.
10. Tuntutlah ilmu sejak buaian hingga liang lahat.
11. Telur hari ini lebih baik dari ayam  besok hari.
12. Waktu itu lebih berharga daripada emas.
13. Pikiran yang sehat terdapat pada badan yang sehat.
14. Sebaik-baik teman duduk sepanjang waktu adalah buku.
15. Siapa menanam dia akan memetik.
16. Sebaik-baik kawan adalah yang menunjukkanmu pada kebaikan.
17. Jika tak ada ilmu maka pasti manusia seperti binatang.
18. Pengetahuan pada waktu kecil seperti lukisan di atas batu.
19. Tak akan kembali hari-hari yang telah berlalu.
20. Belajarlah pada waktku kecil dan amalkan dia saat kau besar.
21. Ilmu tanpa diamalkan bagaikan pohon tanpa buah.
22. Persatuan adalah dasar keberhasilan.
23. Jangan menghina orang miskin dan jadilah penolong baginya.
24. Kemuliaan itu dengan adab bukan karena keturunan.
25. Keselamatan manusia ada pada menjaga pembicaraannya.
26. Perilaku (baik) seseorang lebih baik dari emasnya.
27. Kejelekan perilaku itu menular.
28. Bencana pengetahuan adalah lupa.
29. Jika benar tekadnya maka akan jelas perjalanannya.
30. Jangan menghina orang yang lebih rendah darimu, karena setiap sesuatu memiliki kelebihan.
31. Perbaiki dirimu, maka akan baik kepadamu semua manusia.
32. Berpikirlah sebelum bertindak.
33. Siapa yang mengetahui jauhnya perjalanan dia akan bersiap-siap.
34. Siapa menggali lobang akan terposok ke dalamnya.
35. Musuh yang cerdas lebih baik dari kawan yang bodoh.
36. Siapa yang banyak kebaikannya maka banyak sahabatnya.
37. Bersungguh-sungguhlah dan jangan malas dan jangan jadi lalai, karena penyesalan mendalam itu adalah milik mereka yang bermalas-malasan.
38. Jangan tunda pekerjaanmu hingga besok, apa yang dapat kau kerjakan hari ini.
39. Tinggalkannlah kejahatan itu, dia pasti meninggalkanmu.
40. Sebaik-baik manusia adalah yang terbaik akhlaknya dan paling bermanfaat bagi manusia.
41. Dalam kehati-hatian ada keselamatan dan dalam ketergesa-gesaan ada penyesalan.
42. Buah dari penyia-nyiaan adalah penyesalan dan buah dari keteguhan adalah keselamatan.
43. Kasih sayang pada yang lemah termasuk akhlak yang mulia.
44. Balasan dari kejelekan adalah kejelakan yang setimpal.
45. Meninggalkan jawaban untuk orang bodoh adalah jawabannya.
46. Barang siapa yang manis tutur katanya banyak sahabatnya.
47. Jika sempurna akal seseorang maka sedikit bicaranya.
48. Barang siapa yang mencari kawan tanpa aib maka dia tetap tidak memiliki kawan.
49. Katakanlah yang benar meskipun pahit.
50. Sebaik-baik hartamu adalah yang memberikan manfaat bagimu.
51. Sebaik-baik perkara adalah pertengahan.
52. Setiap tempat ada kata-katanya (yg cocok) dan setiap kata-kata ada tempatnya (yg cocok.
53. Jika kamu tidak malu maka berbuatlah sekehendakmu.
54. Bukannya aib bagi mereka yang miskin, tapi aib itu milik mereka yang pelit.
55. Bukannya yatim itu yang telah mati orang tuanya, tapi yatim itu adalah yang tidak memiliki ilmu dan sopan santun.
56. Setiap pekerjaan ada balasannya dan setiap perkataan ada jawabannya.
57. Dan perlakukanlah manusia sebagaimana kamu ingin diperlakukan.
58. Hancurlah seseorang yang tidak mengetahui kemampuannya.
59. Otak dari dosa adalah kebohongan.
60. Siapa yang menzalimi akan terzalimi.
61. Bukannya keindahan itu dengan pakaian yang menghiasi kita tapi keindahan itu adalah keindahan ilmu dan adab.
62. Jangan kamu lemah nanti kamu diperas dan jangan keras nanti kamu dipatahkan.
63. Barang siapa yang membantumu melakukakan kejelekan, dia menzalimimu.
64. Tindakan, membuat yang sulit menjadi mudah.
65. Saudaraku! Kamu tidak akan mendapat ilmu kecuali dengan enam perkara, akan ku berikan perincian dengan jelas :  Kecerdasan, Harta Benda, Ketamakan, Mempergauli Ustadz Kesungguhan  Waktu yang panjang.
66. Barang siapa yang berhati-hati maka dia akan mendapatkan apa yang dia impikan.
67. Tuntutlah ilmu itu walaupun ke negeri Cina.
68. Kebersihan adalah bagian dari iman.
69. Jika perminataan terlalu banyak, sediki yang membantu.
70. Tak ada kebaikan pada kenikmatan yang diiringi penyesalan.
71. Mengatur pekerjaan akan menghemat setengah waktu.
72. Banyak saudara yang tidak dilahirkan oleh seorang ibu.
73. Obatilah kemarahan itu dengan diam.
74. Perkataan itu menembus apa yang tak ditembus oleh jarum.
75. Tidak setiap yang berkilap itu adalah emas.
76. Tindak tanduk seseorang menunjukkan kepribadiannya.
77. Nilai seseorang sesuai dengan kebaikan yang dilakukannya.
78. Sahabatmu adalah yang membuatmu menangis bukan yang membuatmu tertawa.
79. Terpelesetnya kaki lebih aman dari terpelesetnya lidah.
80. Sebaik-baik kata adalah yang ringkas dan mengena.
81. Segala sesuatu jika kebanyakan akan murah kecuali sopan santun.
82. Awal kemarahan adalah kegilaan dan berakhir dengan penyesalan.
83. Budak itu dipukul dengan tongkat sedangkan orang yang merdeka itu cukup dengan isyarat.
84. Perhatikan apa yang dikatakan dan jangan perhatikan siapa yang mengatakan.
85. Pendengki tak akan bahagia.
86. Semua pekerjaan harus dituntaskan

Share:
Copyright © 2018 Powered by SYUKROLUDIRO.CO. Diberdayakan oleh Blogger.

Promosikan Blog Anda!

Social

Recent Posts

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.