Just Sharing Berbagi itu indah, berbagi tidak akan mengurangi tapi dengan berbagi akan menambah


SOSOK INSPIRATIF , PENJUAL SUSU SEGAR YANG 8 ANAKNYA SEMUANYA HAFIDZ/HAFIDZOH

Kalau dilihat dari kejauhan tak ada bedanya tukang susu yang saya temui ini dengan tukang susu pada umumnya.
Dengan gerobak kecil, pak Budi nama penjual susu tersebut, menjajakan susu segar di pinggiran jalan menuju kawasan perumahan Fajar Indah Solo.
Beberapa pilihan rasa susu segar yang bisa dipilih antara lain susu murni, susu sirup, susu coklat, STMJ dan beberapa pilihan lainnya.
Namun setelah saya mendekat dan hendak memesan segelas susu segar murni, ada pemandangan yang mencuri perhatian saya.
"Apa ini pak?", tanya saya penasaran.
"Lebah madu pak," jawab beliau sambil menyiapkan susu segar pesanan saya.
"Dari mana asalnya lebah-lebah ini pak?", tanya saya lagi.
"Dari tiang listrik itu lho pak", jawab beliau sambil menunjuk ke arah tiang listrik yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat beliau berjualan.
Pak Budi bercerita kalau lebah-lebah tersebut sudah ada sejak pertama kali beliau berjualan, 7 tahun silam. Semula hanya beberapa ekor saja. Hanya 5 sampai 10 ekor saja. Lama kelamaan bertambah dan bertambah terus akhirnya seperti sekarang ini. Ratusan ekor. Kalau saya perkirakan mungkin lebih dari 200 ekor
"Njenengan beri makan apa pak lebah-lebah ini?", tanya saya keheranan.
"Ada 3 makanan yang saya berikan ke lebah-lebah ini pak. Gula pasir, gula jawa dan sirup. Semuanya saya campur air. Biar seneng hatinya pak,"terang pak beliau sambil senyam senyum.
Subhanallah, saya tambah penasaran dengan jawaban tersebut. Sampai segitunya beliau ini. Dibela-belain memberi 3 macam makanan dan tujuannya agar pasukan lebah tersebut seneng hatinya. Saya pun segera merluncurkan pertanyaan selanjutnya.
"Berapa banyak gula pasir yang Bapak berikan untuk makan pasukan lebah ini pak?"
"Gula pasirnya seperempat kilo, air gula jawanya seplastik kecil ini dan sirupnya beberapa sendok saja. Saya niatkan ini sebagai sedekah saya untuk lebah-lebah ini pak", terang pak Budi yang bulan Maret besok genap berusia 46 tahun ini.
Saya mulai merinding mendengar penjelasan pak Budi barusan. Seperempat kilo gula pasir saat ini berarti sekitar Rp. 3.125, belum air gula jawa dan sirupnya.
Subhanallah . .
Sambil duduk menikmati susu segar murni yang dijual pak Budi seharga Rp. 5 ribu itu saya kembali mengajukan pertanyaan berikutnya.
"Apa yang mendorong njenengan mau memberi makan untuk lebah-lebah ini pak? Gimana bisa Bapak bisa mempunyai kasih sayang yang begitu besar seperti ini?"
"Sedekah khan bisa ke siapa saja khan pak? Lebah-lebah ini juga makhluknya Allah. Pemahaman saya sederhana sekali seperti itu pak. Setiap hari saya menyisihkan seharga segelas susu segar dari sekian banyak rejeki yang Allah selalu berikan ke saya setiap harinya. Dengan seperti ini, alhamdulillah saya bisa mencukupi makan keluarga dan menyekolahkan anak-anak saya. Khan sudah cukup tho pak? Mau apa lagi?", terang pak Budi yang dikaruniai 8 anak ini.
Pak Budi melanjutkan lagi.
"Apa yang saya lakukan untuk pasukan lebah ini sebagai gambaran kalau kita berdakwah pak. Dakwah itu kalau diakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang hasilnya pasti menyenangkan. Apa yang kita lakukan bisa diterima dengan nyaman juga. Lebah-lebah ini jadi lembut. Coba Bapak lihat ini. Tangan saya sama sekali tidak digigitnya walau saya masukkan ke kerumunan mereka ini", terang pak Budi sambil memasukkan tangannya ke lebah-lebah yang sedang menikmati makanannya tersebut.
"Jangan-jangan hanya njenengan saja pak dan karena sudah akrab dengan mereka", sambung saya.
"Ndak pak. Coba Bapak masukkan saja tangan Bapak. Asal pelan-pelan tidak apa-apa. Karena mereka tidak merasa terganggu"
Benar juga. Saya masukkan tangan saya ke kerumunan pasukan lebah tersebut dan tidak seekor pun yang menggigit tangan saya.
Subhanallah . .
Rupanya pak Budi masih ingin menunjukkan keakrabannya dengan lebah-lebah tersebut ke saya.
"Lebah ini bisa diajak gojek lho pak. Sebenarnya lebah itu paling takut sama air. Kalau mereka sedang enak-enaknya makan, lantas saya guyur dengan air mereka pasti langsung kabur terbang berhamburan. Tapi sekejap saja langsung balik lagi. Bahkan diantara mereka dengan gembira berenang".
"Lebah berenang?, tanya saya tambah keheranan.
"Beneran pak. Lihat saja itu, beberapa ekor malah ada yang telentang, seperti berenang dengan gaya punggung. Itu bukan karena dia tenggelam lho. Ndak. Mereka sedang bercanda itu"
Saya melihat pemandangan yang ada di depan saya ini dengan tatapan melongo. Nggumun. Koq bisa seakrab ini ya pak Budi dengan pasukan lebah ini? Padahal saya lihat lebah ini ukurannya cukup besar dan seram bagi yang belum terbiasa melihatnya.
Selepas menyaksikan atraksi itu saya menikmati susu segar pesanan saya sambil menanyakan tentang 8 anak pak Budi yang beliau sebut tadi.
Allahu Akabar . . .
Saya makin melongo dan nggumun saja dibuatnya. Bagaimana tidak? Dari 8 anak pak Budi semuanya sedang on the way jadi hafidz al Qur'an. Bahkan ada ada yang sudah hafal 30 juz yakni anak yang nomer 2. Dari 8 anak pak Budi, yang perempuan hanya 1 yang anak nomer.2 tersebut.
7 anak lainnya laki-laki dengan tabungan hafalam masing-masing 24 juz ada 2 anak, 10 juz 2 anak, 8 juz 2 anak dan yang paling kecil sudah hafal 2 juz.
"Saya tidak pernah memberi target ke anak-anak saya setahun harus hafal sekian juz pak. Tugas saya adalah memberi pemahaman kepada mereka bahwa menuntut ilmu itu penting. Apalagi al Qur'an, sangat penting. Selain itu, sebagai orang tua harus terus mendoakan mereka agar diberi cahaya oleh Allah.
Saya mau menangis mendengar kalimat terakhir ini.
Saya makin penasaran untuk bertanya lebih lanjut ke pak Budi yang tinggal di Mutihan, Sondakan ini.
"Apa amalan pak Budi sehingga njenengan bisa menjadikan anak-anak njenengan sepeti itu pak? Apa kiat-kiatnya?
"Apa ya pak. Sepertinya ndak ada. Biasa-biasa saja. Tapi menurut saya yang penting rejeki yang kita berikan ke anak-anak itu harus yang halal. Saya dari dulu alhamdulillah melaksanakan amanah guru saya. Yakni kalau bekerja yang tidak perlu menghabiskan banyak waktu tapi sudah cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya. Saya jualan susu segar ini buka jam 7 habis rata jam 10 atau 11. Kalau susu habis saya ganti jualan es kelapa muda tetap di sini sampai jam 3 sore. Setelah itu bisa pulang. Masih punya waktu untuk istirahat, ngaji rutin dan ngawasi anak-anak", pungkas pak Budi
Ketika saya tanyakan di mana beliau sholat kalau sudah masuk waktu sholat dhuhur dan ashar? Rupanya beliau tak pernah absen sholat berjama'ah di masjid al Fajru yang ada di komplek perumahan Fajar Indah tersebut. Gerobaknya beliau titipkan ke tukang becak yang mangkal di dekat gerobaknya. Ngeri . .
Subhanallah, pagi ini saya dipertenukan Allah dengan sosok istimewa. Istimewa dalam hal mendidik anak, istimewa dalam hal mencari rejeki dan istimewa dalam hal sholat berjama'ah dan menuntut ilmu.
Salam

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

semoga bermanfaat.

Copyright © 2018 Powered by SYUKROLUDIRO.CO. Diberdayakan oleh Blogger.

Promosikan Blog Anda!

Blog Archive

Social

Blog Archive

Recent Posts

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.